Apakah Menolak Mutasi Bisa Terkena PHK? Cek di Sini!

Apakah Menolak Mutasi Bisa Terkena PHK? Cek di Sini!
Jobstreet tim kontendiperbarui pada 11 August, 2025
Share

Ketika masuk dunia kerja, kamu mungkin akan sering mendengar istilah mutasi.

Nah, mutasi ini punya banyak macam, mulai dari pindah departemen/posisi, kantor cabang, kota, hingga negara berbeda yang secara umum ditujukan untuk kebutuhan bisnis.

Lantas, bagaimana jika kamu tidak setuju dengan keputusan tersebut dan ingin menolak mutasi? Apa dampak menolak mutasi kerja? Akankah kamu terancam pemutusan hubungan kerja (PHK)

Jawabannya tidak sesimpel ya atau tidak. Sebab, ketentuan terkait mutasi dan PHK telah diatur dalam undang-undang (UU). Untuk mengetahui jawaban selengkapnya, baca artikel di bawah ini sampai selesai, ya! 


⁠Apa Itu Mutasi dalam Dunia Kerja?
 

Secara garis besar, mutasi merujuk pada penempatan tenaga kerja dari satu posisi atau lokasi ke posisi atau lokasi lain. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional di tengah dinamika bisnis. 

Perpindahan tersebut bisa terjadi antar-departemen, antar-cabang, antar-kota, bahkan hingga antar-negara.

Namun, apa pun jenis mutasi yang dilakukan, Pasal 32 UU Ketenagakerjaan menegaskan bahwa penempatan tenaga kerja harus memenuhi syarat berikut ini: 

  • Mengikuti asas terbuka, adil, bebas, obyektif, dan setara tanpa diskriminasi.
  • Menempatkan karyawan sesuai keterampilan, keahlian, minat, dan bakat. Perusahaan juga harus memperhatikan hak asasi, harkat, martabat, dan perlindungan hukum.
  • Menyesuaikan dengan kebutuhan program nasional dan daerah.


⁠Alasan Perusahaan Melakukan Mutasi Karyawan
 

Tentunya, perusahaan melakukan mutasi karyawan karena suatu alasan. Mutasi adalah langkah yang dilakukan perusahaan untuk mendukung tujuan bisnis dan perkembangan karyawan.  

Secara umum, berikut sejumlah alasan di balik keputusan mutasi yang dilakukan perusahaan: 

Kebutuhan operasional dan perkembangan bisnis 

Dalam dunia bisnis, kebutuhan tenaga kerja tentu sangat dinamis alias bisa berubah sewaktu-waktu.

Contohnya ketika perusahaan membuka cabang atau ekspansi ke lokasi baru. Perusahaan sering kali membutuhkan tenaga kerja berpengalaman untuk mengelola lokasi tersebut. 

Selain itu, mutasi juga dilakukan untuk mengisi kekurangan staf di departemen tertentu yang membutuhkan tambahan tenaga kerja. Harapannya, perpindahan karyawan tersebut bisa membuat operasional bisnis berjalan lebih optimal. 

Pengembangan keterampilan dan kompetensi karyawan 

Mutasi tidak selalu tentang perpindahan lokasi, tetapi juga bisa berupa rotasi antar-departemen. 

Perusahaan menggunakan mutasi sebagai strategi pengembangan karyawan untuk meningkatkan keterampilan. Dengan mutasi, karyawan dapat menambah pengalaman dan memperluas pengetahuan. 

Dari kacamata karyawan, mutasi tidak selalu negatif karena kamu bisa mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai operasi perusahaan secara keseluruhan.

Pada akhirnya, mutasi dapat menjadi kesempatan untuk membangun jaringan kerja yang lebih kuat. 

Penyesuaian struktur organisasi 

Perubahan struktur organisasi sering kali memerlukan penyesuaian posisi dan tanggung jawab karyawan. Mutasi memungkinkan perusahaan menempatkan karyawan pada posisi yang sesuai dengan kebutuhan struktur baru. 

Jika fokus bisnis perusahaan berubah, mutasi membantu perusahaan menyesuaikan tim yang sudah ada.


⁠Hak dan Kewajiban Karyawan Terkait Mutasi
 

Sesuai dengan peraturan UU Ketenagakerjaan, mutasi wajib dilakukan secara adil dan perusahaan harus memperhatikan hak serta kesejahteraan karyawan. Di sisi lain, karyawan juga harus menjalankan kewajibannya. 

Seperti apa hak dan kewajiban yang dimaksud? Berikut penjelasannya:

Hak-hak karyawan ketika dimutasi  

Karyawan yang dimutasi tetap berhak menerima gaji sesuai peraturan yang berlaku. Jika mutasi disertai peningkatan tanggung jawab, maka tentu karyawan harus menerima kenaikan gaji. 

Namun, yang jelas, gaji karyawan yang dimutasi harus mengikuti upah minimum di lokasi kerja yang baru. 

Ketentuan itu tercantum dalam Pasal 90 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan. Intinya, perusahaan tidak boleh memberi gaji yang lebih rendah dari upah minimum di wilayah kerja tersebut. 

Selain gaji, karyawan juga berhak menerima fasilitas kerja dan tunjangan yang memadai. Fasilitas tersebut seperti ruang kerja dan akomodasi untuk mutasi ke luar kota.

Di lain sisi, sebagian perusahaan kemungkinan juga akan memberikan tunjangan makan jika biaya hidup di lokasi baru lebih tinggi. 

Kewajiban yang harus dipenuhi oleh karyawan yang dimutasi 

Supaya mutasi berjalan lancar, karyawan perlu menjalankan kewajiban secara profesional. Jadi, kamu wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai posisi atau lokasi baru dengan baik. 

Karena berada di lokasi atau departemen baru, karyawan yang dimutasi harus mengikuti prosedur dan jadwal kerja sesuai peraturan di tempat tersebut.


⁠Apakah Karyawan Boleh Menolak Mutasi?
 

Ilustrasi seorang karyawan swasta sedang memikirkan surat mutasi kerja dari perusahaan. (Image by jcomp on Freepik)

Salah satu tujuan utama perusahaan melakukan mutasi adalah untuk mendukung efektivitas bisnis.

Namun, bagaimana jika kamu tidak setuju dengan keputusan tersebut? Bolehkah kamu menolak mutasi? Yuk, kita bahas bersama-sama! 

Peraturan hukum terkait penolakan mutasi 

Sebetulnya, UU Ketenagakerjaan maupun UU Cipta Kerja tidak secara eksplisit membahas tentang penolakan mutasi oleh karyawan.  

Jadi, untuk mengetahui apakah karyawan boleh menolak mutasi atau tidak, ada baiknya kamu membaca kembali peraturan perusahaan (PP), perjanjian kerja (PK), atau perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah disepakati. 

Lihat apakah terdapat poin pada perjanjian yang mengatur tentang mutasi karyawan. Jika ada, maka karyawan wajib menjalankan keputusan mutasi dari perusahaan. 

Situasi di mana karyawan dapat menolak mutasi 

Tentunya, karyawan tetap memiliki hak menolak mutasi selama memiliki alasan yang kuat, sah, dan relevan. Berikut beberapa situasi atau alasan yang memungkinkan karyawan menolak mutasi:  

  • Kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
  • Mutasi menyebabkan dampak signifikan terhadap keluarga.
  • Adanya perubahan gaji atau hak yang merugikan.
  • Daerah tujuan mutasi memiliki lingkungan ekstrem, seperti medan berbahaya.
  • Mutasi tidak wajar atau diskriminatif.
  • Mutasi tidak sesuai kompetensi atau jabatan, sehingga berpotensi menurunkan performa. 

Kondisi karyawan tidak dapat menolak mutasi 

Di sisi lain, ada pula beberapa situasi yang membuat kamu sebagai karyawan tidak bisa menolak mutasi dari perusahaan. Berikut ini situasi yang dimaksud: 

  • Mutasi sudah diatur dan disepakati dalam PKB atau kontrak kerja.
  • Mutasi diperlukan karena alasan darurat operasional, misalnya restrukturisasi.
  • Karyawan tidak memiliki alasan untuk menolak mutasi secara jelas dan sah.


⁠Apa Konsekuensi Jika Karyawan Menolak Mutasi?
 

Jika ketentuan mutasi sudah tercantum dalam perjanjian, kamu sebenarnya tidak boleh menolak mutasi.

Namun, bagaimana jika misalnya kamu tetap tidak menyetujuinya? Apa dampak menolak mutasi karyawan? 

Dampak terhadap hubungan kerja dan posisi karyawan di perusahaan 

Jika menolak mutasi yang sudah tercantum dalam perjanjian, kamu dinilai telah melakukan pelanggaran. Jadi, seperti yang telah diatur dalam Pasal 161 UU Ketenagakerjaan, perusahaan berhak memberikan teguran kepada karyawan yang bersangkutan. 

Dalam situasi tertentu, penolakan mutasi juga dapat dinilai sebagai pelanggaran disiplin. Akibatnya, karyawan bisa terkena sanksi administratif, seperti penghentian tunjangan atau pengurangan bonus. 

Karyawan yang menolak juga akan dianggap tidak patuh dan kurang berkomitmen terhadap perusahaan. Hal itu tentu dapat memengaruhi penilaian kinerja dan reputasi karyawan dalam jangka panjang. 

Bahkan, bisa jadi karyawan tersebut tidak akan diprioritaskan untuk pengembangan karier atau promosi jabatan di masa depan. 

Apakah penolakan mutasi dapat berujung pada PHK? 

UU Ketenagakerjaan tidak secara spesifik mengatur tentang penolakan mutasi karyawan sebagai alasan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Namun, Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 (PP 35/2021) menjelaskan tentang alasan perusahaan dapat melakukan PHK. Berikut dua di antaranya: 

  • Karyawan mangkir selama 5 hari kerja atau lebih secara berturut-turut tanpa keterangan tertulis atau bukti sah. Karyawan juga telah dipanggil dua kali oleh pengusaha secara patut.
  • Karyawan melanggar ketentuan dalam PK PP, atau PKB. Untuk poin ini, perusahaan wajib memberi surat peringatan ke 1,2, dan 3, terlebih dahulu. Namun, situasi bisa berubah jika ada ketetapan lain dalam PK, PP, atau PKB. 

Dengan kata lain, penolakan mutasi dapat berujung pada PHK apabila isi PK, PP, atau PKB memang menyebutkan konsekuensi tersebut. 

Jika penolakan mutasi termasuk jenis pelanggaran dalam PK, PP, atau PKB, perusahaan berhak melakukan PHK. Tetapi, perusahaan wajib mengirimkan SP 1, 2, dan 3 terlebih dahulu secara berturut-turut.


⁠Apakah Penolakan Mutasi Dapat Dianggap Pelanggaran?
 

Penolakan mutasi dapat dianggap sebagai pelanggaran apabila karyawan tidak punya alasan sah.

Selain itu, jika ketentuan mutasi tercantum dalam perjanjian kerja, penolakan mutasi bisa dianggap sebagai pelanggaran disiplin kerja. Sebab, itu artinya karyawan melanggar peraturan.  

Tetapi, penolakan mutasi tidak selalu dinilai sebagai pelanggaran berat yang langsung berujung PHK.  

Kalau merujuk pada PP 35/2021, perusahaan dapat melakukan PHK jika sudah memberikan surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut kepada karyawan yang menolak mutasi tanpa alasan jelas dan sah. 

Kebijakan perusahaan soal penolakan mutasi

Setiap perusahaan tentu memiliki kebijakan masing-masing terkait penolakan mutasi. Namun, umumnya kebijakan tersebut berlaku untuk menjaga hubungan baik dengan karyawan serta memastikan kelancaran kegiatan operasional. 

Biasanya, ketika ada penolakan mutasi, perusahaan akan mengajak karyawan yang bersangkutan berdialog untuk memahami alasan penolakan.  

Apabila memungkinkan, perusahaan juga bisa melakukan negosiasi. Misalnya, dengan menawarkan tunjangan tambahan atau memberi waktu lebih untuk persiapan. 

Jika tetap menolak walaupun sudah berdialog, biasanya perusahaan melakukan prosedur formal seperti berikut: 

  1. Memberikan teguran atau surat peringatan. Pemberian surat ini sebagai pengingat karyawan atas tanggung jawabnya sesuai PP, PK, atau PKB.
  2. Melakukan pembinaan agar karyawan lebih siap melakukan mutasi di masa depan.
  3. Apabila karyawan masih menolak mutasi hingga hubungan kerja memburuk, perusahaan dapat melibatkan tim mediasi internal atau pihak ketiga untuk mencari solusi bersama.
  4. PHK sebagai jalan terakhir jika perusahaan sudah memberikan surat peringatan 1, 2, dan 3. Namun, karyawan tetap menolak mutasi sampai menghambat operasional.

PHK karena menolak mutasi, apakah sah secara hukum?

Ilustrasi seorang karyawan perusahaan swasta tampak serius setelah membaca surat perintah mutasi dari perusahaan. (Image by DC Studio on Freepik)

PHK karena penolakan mutasi bisa sah secara hukum apabila kewajiban mutasi tercantum dalam PP, PK, atau PKB. Dengan catatan pula, prosedur PHK harus mematuhi UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja. 

Selain itu, mutasi juga harus memiliki tujuan jelas tanpa merugikan karyawan.

Berdasarkan Pasal 151 UU Ketenagakerjaan, perusahaan wajib berupaya agar tidak terjadi PHK. Kalau sampai harus PHK, perusahaan dan karyawan harus melakukan diskusi terlebih dulu. 

Di lain sisi, UU Cipta Kerja menekankan proses dialog dan penyelesaian bipartit untuk mencegah sengketa PHK. Nantinya, karyawan yang terkena PHK berhak mendapatkan pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak.


⁠Langkah Hukum yang Dapat Diambil Karyawan
 

Karyawan berhak mengajukan keberatan atau banding jika merasa mutasi merugikan atau tidak adil.

Lalu, jika terjadi PHK akibat menolak mutasi, kamu bisa menempuh jalur hukum untuk mempertahankan hak. Berikut informasinya: 

Hak karyawan untuk mengajukan keberatan atau banding atas mutasi 

Apabila menolak mutasi, ajukan keberatan secara tertulis kepada HR atau atasan. Biasanya, perusahaan akan melakukan musyawarah bipartit, yaitu dialog untuk mencari solusi bersama. 

Jika permohonan tersebut disetujui, umumnya perusahaan akan menawarkan opsi penundaan, alternatif penempatan, hingga pembatalan mutasi. 

Khusus untuk karyawan yang bekerja di perusahaan dengan serikat pekerja, mintalah bantuan serikat untuk mendampingimu selama proses musyawarah bipartit. 

Proses hukum jika terjadi PHK karena menolak mutasi 

Bagaimana jika perusahaan harus melakukan PHK karena penolakan mutasi? Kamu juga punya hak untuk menyelesaikan kasus tersebut melalui jalur hukum. 

Coba laporkan PHK tersebut ke Dinas Ketenagakerjaan setempat. Kemungkinan, pihak dinas akan melakukan pertemuan tripartit, yakni mediasi antara perusahaan, karyawan, serta mediator dari Dinas Ketenagakerjaan. 

Nantinya, sengketa PHK akan dianggap selesai jika tercapai kesepakatan. Namun, apabila tidak, biasanya mediator akan memberikan anjuran tertulis untuk proses lanjutan. 

Jika mediasi tripartit gagal, kamu bisa mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). PHI akan menilai apakah mutasi dan PHK telah mematuhi prosedur hukum dan asas keadilan.

Solusi alternatif ketika menolak mutasi

Penolakan mutasi tidak harus berujung PHK atau konflik antara perusahaan dan karyawan. Kedua belah pihak dapat diskusi bersama-sama untuk mencari solusi yang tepat. Berikut langkah alternatif yang bisa kamu tempuh jika ingin menolak mutasi:

- Negosiasi dengan perusahaan mengenai penempatan baru 

Adakan dialog terbuka dengan HR atau atasan untuk menjelaskan alasanmu menolak mutasi. Lalu, lakukan negosiasi untuk mengajukan usul penempatan baru yang lebih sesuai dengan kondisimu. 

Bagaimana tujuan mutasi tidak dapat diubah? Cobalah meminta dukungan lebih dari perusahaan, misalnya dengan menambah tunjangan atau fasilitas kerja. 

- Alternatif posisi lain di perusahaan 

Ketika negosiasi, tidak ada salahnya meminta perusahaan untuk memutasi kamu ke posisi lain. Sebaiknya, siapkan alternatif posisi dan berikan alasan solid kenapa kamu lebih cocok dengan posisi tersebut. 

Bukan tidak mungkin perusahaan akan menerima pengajuanmu dan mencari karyawan pengganti.


⁠Mutasi dan Pengaruhnya Terhadap Karier Karyawan
 

Secara umum, perusahaan melakukan mutasi untuk mengoptimalkan bisnis dan mengembangkan skill karyawan.

Namun, apakah mutasi memang selalu berdampak positif? Jika kamu menolak mutasi, adakah risiko karier yang harus kamu tanggung? 

Apakah mutasi selalu berdampak positif pada karier? 

Mutasi memberi karyawan kesempatan untuk memperkaya pengalaman kerja dan mengembangkan keterampilan. Karyawan yang mutasi biasanya akan dinilai sebagai karyawan yang berkomitmen dan fleksibel. 

Hal itu tentu dapat meningkatkan peluangmu untuk promosi jabatan.

Namun, di sisi lain, mutasi mengharuskan kamu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan budaya kerja baru. Prosesnya bisa saja menyebabkan stres karena ada banyak hal baru yang harus kamu pelajari. 

Risiko karier akibat menolak mutasi 

Jika kamu menolak mutasi, kemungkinan perusahaan akan melihatmu sebagai sosok yang kurang fleksibel. Akibatnya, kamu bisa saja kehilangan kesempatan untuk mendapat promosi jabatan. 

Pada beberapa kasus, penolakan mutasi juga bisa menciptakan ketegangan antara perusahan dan karyawan.

Jika hal ini terjadi, reputasi karyawan di lingkungan kerja bisa terdampak. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi kesejahteraan karier di masa depan.

⁠Tips mempertimbangkan mutasi sebagai langkah karier

Apabila perusahaan menawarkan mutasi, penting bagi karyawan untuk mempertimbangkannya secara bijak. Berikut beberapa tips yang bisa membantu kamu dalam membuat keputusan: 

  • Diskusikan dengan HRD: Bicarakan alasan dan tujuan di balik mutasi. Tanyakan pula mengenai peluang karier yang dapat diperoleh melalui mutasi tersebut.
  • Pertimbangkan dukungan keluarga: Jika mutasi melibatkan perpindahan lokasi, diskusikan dengan keluarga. Diskusi ini membantumu untuk memahami dampaknya bagi kehidupan pribadi.
  • Cari pendapat dari kolega atau mentor: Bicarakan hal ini dengan orang yang sudah pernah melalui pengalaman serupa. Mereka mungkin memiliki wawasan yang bermanfaat untuk keputusanmu. 

Dengan mempertimbangkan secara matang, kamu bisa memutuskan apakah mutasi akan menjadi langkah strategis dalam mengembangkan karier atau justru kurang sesuai dengan tujuanmu.


⁠Kesimpulan
 

Mutasi karyawan adalah proses pemindahan tenaga kerja dari posisi atau lokasi lain dalam perusahaan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional bisnis. 

Jika mutasi tercantum dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan, karyawan wajib untuk bersedia melaksanakannya. 

Namun, ada beberapa kondisi yang membenarkan penolakan mutasi. Misalnya, masalah kesehatan yang menghalangi, perubahan gaji yang merugikan, atau mutasi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang wajar.

Jadi, pastikan kamu memiliki alasan yang kuat dan sah ketika ingin menolak mutasi.

Tanpa alasan yang sah, penolakan mutasi dapat dianggap sebagai pelanggaran peraturan perusahaan. Hal itu nantinya akan berujung pada sanksi administratif, seperti penurunan bonus dan pemberian surat peringatan. 

Selain itu, menolak mutasi tanpa alasan yang jelas juga akan menimbulkan sentimen negatif terhadap karyawan, seperti tidak fleksibel atau bahkan tidak punya komitmen.

Nantinya, sentimen negatif itu bisa memengaruhi penilaian kinerja dan reputasi karyawan dalam jangka panjang.

Terlepas dari apa pun alasannya, pastikan kamu selalu membuka ruang diskusi dengan pihak perusahaan. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan atasan atau rekan kerja untuk menemukan perspektif baru.

Dengan demikian, kamu bisa mengambil keputusan sesuai dengan rencana kariermu pada masa depan.

Yuk, persiapkan diri kamu untuk menggapai pekerjaan impian dengan membaca berbagai informasi dan Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK.

Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dari banyak pakar industri di KarirKu dalam aplikasi Jobstreet. Butuh teman diskusi soal karier untuk memperluas networking? Gabung Komunitas Jobstreet, sekarang!

Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja yang tepat.

Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam satu genggaman saja! Semoga berhasil!


⁠Pertanyaan Seputar Mutasi
 

  1. Apakah saya bisa menolak mutasi tanpa alasan?
    ⁠Menolak mutasi tanpa alasan tidak direkomendasikan. Hal ini berisiko membawa konsekuensi negatif pada hubungan kerja dan posisimu di perusahaan.
  2. Bagaimana cara mengajukan keberatan atas mutasi yang tidak saya setujui?
    ⁠Kamu bisa mengajukan keberatan atas mutasi dengan menulis surat resmi atau email kepada HR atau atasan.
  3. Apakah saya tetap mendapatkan tunjangan jika dipindahkan ke cabang lain?
    ⁠Ya. Idealnya, karyawan yang dimutasi ke cabang lain berhak mendapatkan tunjangan dan fasilitas kerja. Jumlahnya bergantung pada ketentuan dalam PP, PK, atau PKB.
  4. Apa yang harus dilakukan jika saya dipaksa untuk pindah ke tempat yang jauh?
    ⁠Jika kamu dipaksa mutasi ke tempat yang jauh, pertimbangkan dulu dampaknya secara objektif agar bisa mengambil langkah yang bijak. Ajukan keberatan tertulis secara resmi kepada HR atau atasan jika kamu merasa keberatan.

    ⁠Lalu, apabila kamu tidak keberatan dengan mutasi, tapi merasa tempat tujuan terlalu jauh, cobalah bernegosiasi tentang tunjangan, fasilitas, dan akomodasi.

More from this category: Kehidupan kerja

Telusuri istilah pencarian teratas

Tahukah Anda bahwa banyak kandidat yang menyiapkan resume dan meneliti suatu industri dengan menjelajahi istilah pencarian teratas?

Berlangganan Panduan Karir

Dapatkan saran karier dari ahli yang dikirimkan ke kotak masuk Anda.
Dengan memberikan informasi pribadi Anda, Anda menyetujui Pemberitahuan Pengumpulan dan Kebijakan Privasi. Jika Anda berusia di bawah 21 tahun, Anda memiliki izin dari orang tua agar Jobstreet dan afiliasinya memproses data pribadi Anda. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja.