Pada era sekarang, semakin banyak perusahaan yang memperhatikan rekam jejak calon karyawan dalam proses rekrutmen. Salah satu aspek yang mulai dipertimbangkan saat melamar kerja adalah BI checking.
Awalnya, BI checking hanya digunakan untuk menilai kelayakan pengajuan kredit.
Namun, kini beberapa perusahaan menjadikannya salah satu bahan evaluasi dalam proses rekrutmen.
Banyak pelamar pun bertanya-tanya: “Apakah BI Checking benar-benar berpengaruh saat melamar kerja?”
Nah, untuk membantumu memahami hal ini lebih jelas, pelajari penjelasan lengkap soal BI Checking saat melamar kerja dalam artikel ini.
Pastikan kamu membaca sampai tuntas karena ada ulasan soal alasan perusahaan mempertimbangkan BI checking, dampak terhadap peluang kerja, hingga tips mengatasinya! Yuk, kita pelajari bersama!
BI checking adalah proses pengecekan riwayat kredit seseorang melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Awalnya, istilah BI Checking merujuk pada Sistem Informasi Debitur (SID) milik Bank Indonesia.
Namun sejak dialihkan ke OJK, istilah resmi yang digunakan adalah SLIK OJK.
Meski begitu, masyarakat masih lebih familiar menggunakan istilah BI Checking. Melalui BI checking, lembaga keuangan bisa melihat:
Biasanya, BI checking dilakukan saat seseorang mengajukan kredit, seperti KPR, kredit kendaraan, atau kartu kredit.
Namun, dalam proses rekrutmen karyawan, beberapa perusahaan menggunakannya untuk menilai kestabilan dan tanggung jawab calon karyawan.
Adapun berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 40/POJK.03/2019, tingkat kolektibilitas kredit terbagi menjadi:
Semakin baik kolektibilitas, semakin kecil risikonya sehingga pengajuan pinjaman/cicilan kemungkinan besar diterima.
Sebaliknya, kolektibilitas 3–5 dapat menyebabkan pengajuan kredit ditolak.
Secara resmi, BI checking bukan syarat wajib dalam proses rekrutmen di Indonesia.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan bahwa tidak ada aturan yang mewajibkan perusahaan untuk mengecek riwayat kredit calon pekerja.
Kepala Biro Humas Kemnaker, Chairul Fadly Harahap, menyampaikan bahwa BI checking tidak memiliki regulasi khusus. Penerapannya sepenuhnya adalah kebijakan internal perusahaan.
Begitu juga dari sisi OJK, mereka menjelaskan bahwa SLIK digunakan untuk keperluan lembaga keuangan dalam menilai risiko kredit.
OJK juga menyebut bahwa SLIK bukan untuk menentukan kelayakan seseorang dalam mendapatkan pekerjaan.
Walaupun tidak diatur sebagai syarat resmi, kenyataannya beberapa perusahaan tetap melakukan BI checking sebagai bagian dari proses screening evaluasi internal.
Umumnya, perusahaan yang menerapkan hal ini berasal dari sektor:
Dalam praktiknya, perusahaan menggunakan BI checking bukan sebagai syarat administratif.
Justru, pengecekan BI checking digunakan sebagai indikator pendukung untuk menilai integritas dan tanggung jawab calon karyawan.
Meskipun tidak wajib secara regulasi, beberapa perusahaan tetap menggunakan BI checking sebagai bahan pertimbangan dalam proses rekrutmen.
Pasalnya, catatan kredit dianggap mampu merefleksikan beberapa aspek penting dari calon karyawan.
Berikut alasan utamanya:
Riwayat pembayaran cicilan yang lancar bisa menunjukkan bahwa seseorang memiliki manajemen keuangan yang baik dan disiplin. Calon karyawan pada akhirnya juga dianggap konsisten dalam memenuhi kewajiban.
Nilai-nilai ini sering dianggap sejalan dengan kemampuan bekerja secara teratur, taat prosedur, dan mampu menyelesaikan tugas tepat waktu.
Catatan kredit yang bermasalah memang tidak secara otomatis mencerminkan karakter seseorang.
Namun, bagi perusahaan, terutama sektor keuangan, hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran terkait integritas.
Dalam posisi yang memiliki akses ke dana perusahaan, data sensitif, atau sistem keuangan, rekam jejak keuangan pribadi sering dipandang sebagai indikator awal etika kerja.
Calon karyawan yang memiliki tunggakan berat kemungkinan besar dianggap berpotensi menghadapi tekanan finansial.
Dalam beberapa kasus, perusahaan khawatir kondisi itu dapat berdampak pada fokus, kinerja, hingga risiko moral hazard.
Oleh karena itu, perusahaan ingin memastikan kandidat berada dalam kondisi finansial yang stabil sebelum diberikan tanggung jawab penting.
Untuk posisi seperti finance, accounting, teller, auditor, analis keuangan, hingga internal control, akurasi dan integritas adalah kunci utama.
Pada jabatan-jabatan tersebut, catatan kredit yang baik dianggap sebagai cerminan:
Contohnya, seseorang yang memiliki riwayat selalu membayar cicilan tepat waktu biasanya dinilai disiplin, dapat dipercaya, dan cenderung tidak menunda pekerjaan.
Nilai-nilai seperti ini sejalan dengan standar profesionalitas yang dibutuhkan perusahaan, terutama di industri yang menangani transaksi keuangan atau data penting.
Dengan kata lain, perusahaan bukan hanya melihat angka dalam laporan kredit, tetapi mencoba menilai karakter, stabilitas, dan tanggung jawab calon karyawan dari kebiasaan finansial mereka.
Catatan BI checking memang bukan penentu utama, tetapi tetap dapat memengaruhi peluang kerja, terutama pada posisi yang berkaitan dengan finansial.
Jika riwayat kredit buruk, perusahaan mungkin akan menilai kamu sebagai pribadi yang berisiko memiliki masalah manajemen keuangan atau berpotensi mengalami tekanan yang dapat memengaruhi kinerja.
Sebaliknya, catatan kredit yang baik menunjukkan sikap disiplin, komitmen, dan konsistensi.
Berbagai hal positif itu tentu bisa menjadi nilai tambah saat melamar kerja, khususnya di industri yang sensitif terhadap keuangan.
Untuk BI checking dengan skor atau gambaran kolektibilitas 1–2, terbilang masih aman dalam kaitannya dengan proses mencari pekerjaan.
Sementara kolektibilitas 3–5 berpotensi masuk daftar khusus bahkan bisa membatasi peluang kerja di beberapa sektor.
Jadi, menjaga kolektibilitas tetap baik, bahkan dapat membantu memperluas pilihan pekerjaan di masa depan.
Memiliki catatan BI checking kurang baik bukan berarti menutup peluang kerja sepenuhnya.
Ada beberapa strategi yang bisa kamu lakukan untuk tetap memperoleh kesempatan terbaik, di antaranya:
Alih-alih terus memikirkan riwayat kredit, fokuslah pada pengembangan diri.
Tingkatkan kompetensi diri sesuai dengan posisi yang kamu incar, mulai dari mengikuti pelatihan, kursus, hingga memperdalam keahlian teknis maupun soft skill.
Pasalnya, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman kerja adalah tiga hal utama yang memengaruhi proses rekrutmen karyawan.
Jika kamu mampu menunjukkan kompetensi kuat dan nilai lebih, potensi diterima tetap besar meskipun BI Checking tidak sempurna.
Riwayat BI checking bisa diperbaiki. Cara paling efektif adalah melakukan “pemutihan”, yaitu dengan melunasi seluruh tunggakan atau cicilan yang masih berjalan.
Jika kamu sudah melunasi pinjaman tetapi datanya belum diperbarui, ajukan Surat Keterangan Pelunasan Pinjaman (SKPP) atau Surat Keterangan Lunas dari bank/lembaga kredit terkait.
Surat tersebut dapat dibawa ke OJK untuk memperbaiki atau memperbarui data BI checking agar status kamu kembali bersih.
Semakin cepat kamu memperbaiki catatan keuangan, semakin besar peluang kamu untuk melamar pekerjaan di lebih banyak perusahaan.
Beberapa perusahaan tidak menjadikan BI Checking sebagai bahan pertimbangan. Cari perusahaan yang lebih fokus pada keterampilan, pengalaman, dan potensi, bukan riwayat finansialmu.
Jika merasa skor atau kredibilitas BI checking kamu kurang baik, sebaiknya hindari dulu melamar ke sektor yang hampir pasti melakukan pengecekan kredit, seperti:
Untuk saat ini, fokuslah pada perusahaan yang menilai kamu dari kemampuan, bukan catatan kredit.
Pada dasarnya, BI checking bukan syarat resmi dalam proses rekrutmen karyawan di Indonesia.
Namun, beberapa perusahaan tetap menggunakannya sebagai pertimbangan tambahan, terutama untuk posisi yang sensitif terhadap keuangan dan integritas.
Jika memiliki catatan kredit kurang baik, itu bukan berarti peluangmu untuk mendapat pekerjaan otomatis tertutup.
Cobalah untuk tetap fokus meningkatkan kualitas diri karena tiga faktor utama yang paling menentukan dalam proses rekrtumen karyawan adalah kemampuan/skill, pengetahuan, dan pengalaman.
Yuk, persiapkan diri kamu untuk menggapai pekerjaan impian dengan membaca berbagai informasi dan Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK.
Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dari banyak pakar industri di KarirKu dalam aplikasi Jobstreet. Butuh teman diskusi soal karier untuk memperluas networking? Gabung Komunitas Jobstreet, sekarang!
Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja yang tepat.
Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam satu genggaman saja! Semoga berhasil!