Pernah berhenti bekerja sementara, lalu bingung bagaimana menuliskannya di CV? Tenang, kamu nggak sendiri. Banyak kok profesional yang memilih mengambil career break.
Namun, tantangannya muncul saat harus menjelaskan hal itu dengan cara yang tetap terlihat positif.
Kuncinya terletak pada bagaimana kamu mengomunikasikannya, baik di CV maupun di cover letter. Dengan begitu, kamu tetap bisa menunjukkan nilai dan potensi yang kamu miliki.
Lalu, bagaimana cara menulis career break dengan baik?
Dalam artikel ini, kamu bisa belajar tips memilih kata yang tepat di CV, menonjolkan keahlian yang tetap relevan, hingga menyusun narasi yang kuat di cover letter terkait career break. Yuk, kita pelajari bersama!
Career break adalah periode jeda ketika seseorang berhenti dan tidak mengambil pekerjaan untuk sementara waktu.
Ada banyak alasan yang membuat pekerja profesional memutuskan mengambil career break, baik karena faktor pribadi maupun terkait pengembangan karier.
Beberapa alasan yang umum dipakai untuk jeda karier adalah ingin fokus pada keluarga, melanjutkan studi, alasan kesehatan, atau sekadar mengambil waktu untuk refleksi diri.
Meski sering kali menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap karier, career break sebenarnya tidak selalu menjadi hambatan.
Dengan evaluasi dan perencanaan yang tepat, masa jeda karier justru bisa menjadi momen penting untuk memperkuat kompetensi dan memperkaya pengalaman hidup.
Pada era kerja modern, career break bukan lagi dianggap sebagai “celah” dalam riwayat karier.
Justru, momen jeda itu menjadi bagian alami dari perjalanan profesional karier seseorang.
Kuncinya terletak pada bagaimana kamu memanfaatkan waktu tersebut dan cara menjelaskannya dalam CV, cover letter, atau saat interview kerja.
Sebelum menuliskan career break di CV, ada beberapa langkah persiapan yang perlu kamu lakukan agar pengalaman jeda karier bisa tersampaikan dengan efektif dan profesional.
Berikut ini persiapan yang dapat kamu lakukan:
Langkah pertama adalah memahami alasan di balik career break dan bagaimana hal tersebut memengaruhi perjalanan kariermu.
Dengan menyadari alasan utama, apakah karena keluarga, pendidikan, kesehatan, atau pengembangan diri, kamu akan dengan mudah menjelaskan jeda tersebut secara jelas, jujur, dan proporsional.
Selama jeda karier, kamu mungkin memperoleh banyak pelajaran berharga. Sebagai contoh, belajar mengatur waktu dengan lebih efisien, beradaptasi dengan perubahan, atau membangun ketahanan diri dan mental.
Semua hal itu menunjukkan kemampuanmu untuk tumbuh dan berkembang, bahkan di luar dunia kerja formal.
Gunakan kesempatan career break untuk menambah keahlian baru yang menunjang diri ketika nanti memutuskan kembali bekerja.
Kamu bisa mengikuti kursus, mendapatkan sertifikasi, menjadi relawan, atau mengerjakan proyek pribadi.
Berbagai aktivitas positif itu bisa menjadi bukti nyata bahwa kamu tetap produktif dan berorientasi pada pengembangan diri.
Mengisi masa jeda dengan kegiatan yang bermakna akan menunjukkan profesionalisme dan inisiatif diri untuk terus berkembang.
Kamu bisa mengambil kursus daring, membaca buku pengembangan karier, mengembangkan hobi yang produktif, atau berpartisipasi dalam kegiatan sukarela.
Semua pengalaman ini bisa menjadi nilai tambah saat kamu kembali melamar pekerjaan.
Setelah masa jeda berakhir, tentukan arah karier yang ingin kamu tuju. Evaluasi kembali posisi dan jalur profesionalmu.
Apakah ingin kembali ke bidang yang sama, naik ke level manajerial, atau menjelajahi bidang baru yang lebih sesuai dengan minat dan prioritas hidupmu? Semua itu harus terjawab sebelum kamu kembali ke dunia kerja.
Ingat, career break bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk mempersiapkan diri dengan lebih matang.
Banyak orang justru menemukan arah baru selama jeda karier. Jadi, pahami apa yang benar-benar kamu inginkan, serta hal-hal yang sudah tidak sejalan dengan visi kariernya.
Dengan perspektif baru ini, kamu bisa kembali bekerja dengan semangat, fokus, dan tujuan yang lebih jelas.
Menuliskan career break di CV memang bisa menjadi tantangan, terutama bagi pekerja yang baru pertama kali mengambil jeda karier.
Namun, jika dikomunikasikan dengan cara yang positif dan profesional, jeda karier justru dapat menunjukkan bahwa kamu tetap produktif serta memiliki semangat belajar tinggi selama periode tersebut.
Berikut ini beberapa cara menulis jeda karier di CV beserta contohnya:
Kamu dapat menulis career break di bagian riwayat pekerjaan dengan mencantumkan rentang waktu yang jelas.
Jika jeda tersebut cukup signifikan atau relevan dengan arah kariermu, kamu juga bisa membuat bagian khusus berjudul “Career Break”. Tujuannya untuk menyoroti hal-hal yang kamu pelajari atau capai selama periode itu.
Gunakan bahasa yang singkat, jelas, dan profesional saat menjelaskan alasan career break.
Tidak perlu menceritakan detail yang terlalu pribadi, cukup sampaikan alasan utama seperti merawat keluarga, melanjutkan pendidikan, atau fokus pada pengembangan diri.
Tunjukkan bahwa kamu tetap aktif dan produktif selama mengambil jeda karier.
Sertakan kegiatan yang menunjukkan pengembangan diri, seperti mengikuti kursus, sertifikasi, proyek sukarela, atau kegiatan lain yang relevan dengan bidang kerja yang kamu incar.
Mengambil jeda karier untuk menyelesaikan sertifikasi di bidang manajemen proyek dan menjaga keseimbangan kehidupan pribadi. Selama jeda karier, saya mengikuti kursus PMP (Project Management Professional) dan Agile Methodologies. Selain itu, saya juga sempat menjadi sukarelawan di organisasi nirlaba untuk mengelola proyek pengembangan masyarakat. |
Dalam cover letter, career break juga perlu dijelaskan dengan cara yang positif dan meyakinkan.
Tujuannya agar rekruter atau HRD bisa memahami konteks di balik jeda tersebut dan melihat bagaimana pengalaman selama periode itu bisa menjadi nilai tambah.
Sebagai panduan, berikut adalah cara menulis jeda karier di cover letter:
Jelaskan secara singkat alasan kamu mengambil jeda karier, tanpa perlu membahas hal yang terlalu pribadi.
Fokus pada konteks profesional dan pembelajaran yang kamu peroleh selama masa tersebut.
Tunjukkan bagaimana keterampilan atau pengalaman yang kamu kembangkan selama jeda relevan dengan posisi yang kamu lamar.
Hal itu akan membantu HRD melihat bahwa career break kamu bukanlah masa pasif, melainkan periode pertumbuhan dan pembelajaran.
Selain menjelaskan alasan dan pengalaman, penting juga menunjukkan semangat dan kesiapan untuk kembali ke dunia kerja.
Sampaikan bahwa kamu termotivasi untuk berkontribusi dan siap menghadapi tantangan baru dengan perspektif yang lebih segar.
Nama: Ari Wibowo Dear Bapak/Ibu [Nama HRD/User], Saya sangat tertarik melamar posisi Marketing Manager di PT. Kreatif Digital Indonesia yang saya temukan di situs resmi perusahaan. Dengan lebih dari delapan tahun pengalaman dalam pemasaran digital, termasuk mengelola kampanye di beberapa perusahaan ternama, saya yakin dapat memberikan kontribusi signifikan bagi tim Anda. Sebelum melanjutkan karier di bidang pemasaran, saya memutuskan untuk mengambil career break pada awal 2022 hingga akhir 2023 untuk merawat anggota keluarga yang sedang sakit. Selama periode tersebut, saya tetap menjaga keterampilan profesional dengan mengikuti kursus daring di bidang Content Marketing dan SEO Optimization melalui KarirKu di aplikasi Jobstreet by SEEK. Saya juga aktif sebagai relawan di sebuah organisasi nirlaba dengan tugas merancang dan melaksanakan kampanye pemasaran media sosial mereka. Saat ini, saya merasa sangat siap dan antusias untuk kembali bekerja di industri pemasaran. Saya yakin bahwa kombinasi antara pengalaman sebelumnya dan pembelajaran selama career break akan memberikan nilai tambah bagi PT. Kreatif Digital Indonesia. Saya berharap dapat berkontribusi dalam mengembangkan strategi pemasaran perusahaan dan membantu mencapai tujuan jangka panjang. Hormat saya, Ari Wibowo [Nomor Telepon] |
Menuliskan career break di Profil Jobstreet juga menjadi salah satu cara yang baik untuk menunjukkan transparansi dan profesionalisme dalam perjalanan kariermu.
Dengan menjelaskan jeda karier secara terbuka, kamu menunjukkan bahwa kamu percaya diri dan memiliki kesadaran yang kuat terhadap setiap fase dalam perjalanan profesionalmu.
Berikut beberapa agar penulisan career break di Jobstreet tetap menarik di mata rekruter:
Tambahkan entri baru Profil Jobstreet kamu di bagian Experience/Pengalaman dengan judul “Career Break”.
Cantumkan rentang waktu jeda karier secara jelas dan gunakan deskripsi singkat mengenai alasan mengambil jeda tersebut.
Langkah ini menunjukkan kejujuran sekaligus profesionalisme. Alasannya karena perekrut akan lebih menghargai kandidat yang terbuka dan memiliki arah karier yang jelas.
Gunakan kolom deskripsi untuk menjelaskan secara ringkas alasan kamu mengambil career break, tanpa perlu masuk ke detail pribadi.
Fokuskan penjelasan pada hal-hal positif dan produktif yang kamu lakukan selama periode tersebut.
Hal ini akan menegaskan bahwa kamu tetap aktif mengembangkan diri meski sedang tidak bekerja secara formal.
Career Break Saya mengambil jeda karier untuk fokus pada pengembangan pribadi dan profesional. Selama jeda karier, saya aktif mengikuti kursus daring di bidang Digital Marketing dan Project Management, serta menjadi relawan di organisasi nirlaba untuk membantu mengelola proyek sosial dan kegiatan komunikasi publik. Periode ini membantu saya memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan manajemen waktu, serta memperkuat komitmen saya terhadap keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Selain itu, saya bekerja paruh waktu sebagai konsultan freelance di sebuah UKM dengan tugas membantu bisnis mengembangkan strategi pemasaran digital. Kegiatan ini memungkinkan saya untuk tetap up-to-date dengan tren industri. |
Setelah menulis di CV dan cover letter, kamu juga harus bersiap menjelaskan career break kepada HRD dalam interview kerja.
Berikut tips yang bisa kamu terapkan agar terlihat profesional saat interview kerja setelah career break:
Sangat penting untuk bersikap jujur mengenai alasan mengambil career break.
Tidak perlu terlalu detail, cukup sampaikan secara jelas apa yang mendasari keputusan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa kamu seorang profesional yang bertanggung jawab terhadap keputusan karier.
Fokuslah pada apa yang kamu pelajari atau lakukan selama masa jeda karier. Apakah mengikuti kursus, belajar keterampilan baru, atau bekerja sebagai sukarelawan?
Tunjukkan bahwa kamu tetap produktif dan relevan dengan industri yang digeluti.
Selanjutnya, cobalah menghubungkan pengalaman atau keterampilan yang kamu peroleh selama career break dengan posisi yang sedang dilamar.
Tuunjukkan bahwa kamu sudah siap kembali bekerja dan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Career break bukanlah hal yang perlu disembunyikan atau dianggap sebagai kelemahan dalam perjalanan karier.
Justru, dengan cara penyampaian yang tepat di CV, cover letter, maupun Profil Jobstreet, jeda karier bisa menjadi bukti bahwa kamu mampu beradaptasi, belajar, dan bertumbuh dalam berbagai situasi hidup.
Yang terpenting bukanlah seberapa lama kamu berhenti, tetapi bagaimana kamu menggunakan waktu tersebut untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara profesional maupun pribadi.
Jika disampaikan dengan jujur, positif, dan strategis, career break bisa menjadi nilai tambah yang menunjukkan kedewasaan, empati, serta kesiapanmu untuk kembali berkontribusi di dunia kerja dengan semangat baru.
Yuk, persiapkan diri kamu untuk menggapai pekerjaan impian dengan membaca berbagai informasi dan Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK.
Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dari banyak pakar industri di KarirKu dalam aplikasi Jobstreet. Butuh teman diskusi soal karier untuk memperluas networking? Gabung Komunitas Jobstreet, sekarang!
Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja yang tepat.
Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam satu genggaman saja! Semoga berhasil!