Gaya kepemimpinan adalah cerminan kepribadian, pengalaman, dan cara berpikir seorang pemimpin. Jika ingin menjadi seorang pemimpin, kamu perlu tahu macam-macam gaya kepemimpinan. Sebab, tiap gaya punya efek yang berbeda dan dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan tim yang kamu kelola.
Kamu perlu tahu, gaya kepemimpinan berbeda dengan gaya manajemen. Merujuk pada Harvard Business School, bahwa seorang manajer fokus pada ‘cara’, sedangkan seorang pemimpin fokus pada ‘visi’. Saat manajemen berfokus pada sistem dan output, kepemimpinan berfokus pada anggota dan perubahan.
“Manajer” adalah jabatan yang punya tanggung jawab tertentu, sedangkan “pemimpin” adalah kualitas yang perlu dibangun. Kamu bisa menjadi seorang manajer sekaligus seorang pemimpin, tapi manajer yang baik pasti pemimpin yang hebat!
Mengetahui berbagai gaya kepemimpinan dan memahami mana yang terbaik untuk dipraktikkan di dalam tim kamu adalah hal yang sangat krusial. Pemimpin yang tidak punya wawasan terhadap gaya kepemimpinan bisa terjatuh ke dalam cara memimpin yang keliru.
Sebanyak 53% tenaga kerja Indonesia tidak puas dengan atasan mereka. Itu terjadi karena atasan terkadang keliru saat memilih gaya kepemimpinan. Adalah hal yang penting bagi seorang pemimpin untuk memilih gaya kepemimpinan yang tepat. Sebab, seorang pemimpin perlu menyesuaikan dirinya dengan sifat, karakter, dan kemampuan anggotanya.
Penelitian terhadap gaya kepemimpinan dan pengaruhnya sudah dilakukan oleh banyak institusi. Salah satu yang masih sering dirujuk adalah penelitian Daniel Goleman berjudul Leadership That Gets Results yang dilakukan selama tiga tahun dan mencakup lebih dari 3000 manajer mid-level.
Temuan lainnya yang menarik adalah, 30% besaran revenue perusahaan sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan manajernya. Hal ini menunjukkan bahwa dengan gaya kepemimpinan yang tepat, kinerja setiap anggota dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya akan meningkat.
Berikut 15 macam gaya kepemimpinan yang perlu kamu ketahui!
Kepemimpinan otokratis barangkali adalah gaya kepemimpinan yang paling tua. Para pemimpin yang menerapkan gaya ini memimpin dengan memaksa. Strategi diimplementasikan dengan fokus yang ketat. Segala yang diminta pemimpin adalah perintah yang tidak dapat dibantah.
Pemimpin yang mengadopsi gaya kepemimpinan otokratis memiliki sifat tegas dan otoriter, sehingga sangat jarang menerima masukan dari anggota tim. Dalam sistem ini, hanya pemimpin yang berhak merancang keputusan. Ia juga yang membangun metode, proses, dan kebijakan yang harus dijalankan dan dipatuhi oleh para anggota.
Gaya kepemimpinan ini mengadopsi top-down approach atau pendekatan dari atas ke bawah. Artinya, keputusan tim hanya dapat dibuat oleh kalangan atas (pemimpin) dan diimplementasikan oleh kalangan bawah (anggota).
Salah satu kelebihan dari gaya kepemimpinan otokratis adalah perintah yang jelas, di mana tugas dan tanggung jawab disampaikan dengan jernih. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk menentukan siapa yang mengerjakan apa.
Namun, gaya kepemimpinan otokratis sudah terlalu kuno, terutama untuk tahun 2023. Apabila diterapkan di dalam sebuah perusahaan, gaya kepemimpinan ini dapat membuat karyawan merasa tidak nyaman, sehingga memutuskan untuk berhenti bekerja. Beberapa kelemahan lain dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya potensi intimidasi terhadap karyawan, adanya aturan terhadap hal-hal yang tidak perlu, dan lingkungan kerja yang tidak sehat.
Gaya kepemimpinan ini biasanya diterapkan di dalam militer. Tampaknya, semua kesatuan militer di seluruh dunia menerapkan gaya kepemimpinan ini demi adanya stabilitas, efisiensi, dan kecepatan.
Secara umum, gaya kepemimpinan ini memang dianggap negatif. Namun, tidak menutup kemungkinan ada saat-saat tertentu yang membuat seorang pemimpin perlu mengambil kontrol penuh atas bawahannya.
Lawan dari kepemimpinan otokratis adalah kepemimpinan demokratis. Dalam kepemimpinan demokratis, seorang pemimpin membuat keputusan berdasarkan masukan dari seluruh anggota tim. Saat pemimpin memiliki sebuah pendapat, ia akan mendengarkan perspektif para anggota untuk menerima saran atau kritik.
Apabila kepemimpinan otokratis beroperasi dengan top-down approach atau pendekatan dari atas ke bawah, kepemimpinan demokratis beroperasi dari bawah ke atas atau bottom-up approach. Artinya, keputusan dibuat berdasarkan kolaborasi dan partisipasi dari semua anggota tanpa kecuali.
Gaya kepemimpinan demokratis dinilai efektif karena memberdayakan anggota untuk berpartisipasi. Pemimpin mendorong mereka untuk berbicara dan mendengarkan. Gaya kepemimpinan ini juga dapat menumbuhkan rasa keterikatan karena anggota merasa pendapatnya dipertimbangkan. Hal positif lain adalah transparansinya.
Namun, kepemimpinan demokratis bukan tanpa kelemahan. Gaya kepemimpinan ini juga dapat menghasilkan instabilitas serta decision-making yang terlalu lama. Semakin banyak anggota, semakin banyak masukan dan pendapat. Tentu saja, mempertimbangkan semua pendapat anggota dan menunggu persetujuan mereka akan cukup banyak menghabiskan waktu.
Gaya kepemimpinan demokratis biasanya dilakukan pada saat pemimpin melakukan meeting dengan jajaran eksekutif perusahaan. Kepemimpinan jenis ini juga dapat diaplikasikan saat kamu melakukan meeting untuk menghasilkan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama.
Pada saat ini, hampir seluruh negara dapat menjadi contoh dari kepemimpinan demokratis, di mana presiden dipilih oleh rakyatnya.
Laissez-faire berasal dari bahasa Prancis yang berarti “biarkan mereka melakukan”. Dengan begitu, gaya kepemimpinan laissez-faire memberikan otoritas kepemimpinan kepada anggota. Pemimpin di dalam sistem kepemimpinan ini tidak melakukan intervensi apa pun kecuali pada saat ia dibutuhkan.
Gaya ini juga dikenal sebagai kepemimpinan delegatif, karena mendelegasikan hampir semua peran kepada semua anggota. Gaya ini membiarkan para anggota untuk melakukan metode yang dikehendakinya.
Pemimpin yang mengadopsi gaya laissez-faire mendorong otonomi kepada timnya. Dengan mendelegasikan tugas, para anggota juga diberikan kebebasan sekaligus tanggung jawab. Pada saat terjadi kesalahan, pemimpin laissez-faire akan mengambil alih tanggung jawab, tetapi tidak mendikte timnya. Pemimpin ini hadir untuk memberikan panduan, dukungan, dan melatih para anggotanya untuk memastikan pertumbuhan personal mereka.
Dalam gaya kepemimpinan ini, biasanya pemimpin memberikan alat-alat dan fasilitas kepada para anggota untuk mendukung kinerja mereka.
Di bawah sistem kepemimpinan laissez-faire, pemimpin dapat mempercayakan secara penuh pekerjaan kepada anggotanya. Hal ini akan memotivasi anggota untuk melakukan yang terbaik. Kepercayaan yang tinggi di dalam tim bisa membuat anggota merasa lebih bernilai dan diberdayakan.
Namun, otonomi yang ada pada jenis kepemimpinan ini dapat sangat menyulitkan bagi anggota yang baru memulai karier atau mereka yang memerlukan pendampingan. Apabila itu terjadi, terdapat risiko adanya perintah yang tidak diselesaikan dengan benar.
Bagaimanapun, kepemimpinan laissez-faire yang diaplikasikan pada situasi yang salah dapat membuat pekerja merasa diri mereka sedang berada di sebuah kapal tanpa nakhoda. Sedikit lengah, struktur tim dapat runtuh.
Jenis kepemimpinan ini dapat menumbuhkan budaya kerja yang lebih rileks. Biasanya, sistem kepemimpinan ini berjalan dengan baik di bidang teknologi kreatif seperti periklanan dan desain. Sistem ini juga dapat berjalan di perusahaan kecil ataupun start-up.
Kepemimpinan transformasional berfokus pada transformasi tim dengan cara memotivasi anggotanya untuk lebih kontekstual. Pemimpin transformasional adalah agent of change. Di dunia yang senantiasa berubah seperti saat ini, kepemimpinan jenis ini sangat diperlukan.
Kepemimpinan transformasional harus bisa mengidentifikasi perubahan yang diperlukan, merancang visi yang akan membuka jalan bagi perubahan, serta melaksanakan rencana yang telah disiapkan agar perubahan tersebut terjadi.
Seorang pemimpin transformasional merupakan individu yang visioner. Pandangan dan pemikirannya mengarah ke masa depan. Ia memiliki kemampuan untuk menganalisis perkembangan yang terjadi dan tahu bagaimana menghadapinya.
Selain itu, pemimpin ini memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mampu memotivasi, menginspirasi, adaptif, berpikiran terbuka, dan progresif.
Di bawah sistem kepemimpinan ini, anggota didorong untuk kreatif dalam pekerjaan. Gaya kepemimpinan ini juga membutuhkan anggota yang dapat berpikir out of the box. Dengan begitu, anggota akan melihat kemampuan mereka yang sesungguhnya.
Kelebihan sistem kepemimpinan transformasional sangat jelas. Sistem ini dapat mempersatukan anggota dan mendorong perubahan. Namun, sistem kepemimpinan ini juga dapat berisiko jika diaplikasikan pada perusahaan yang tidak siap untuk berubah. Perubahan tidak terjadi dalam waktu semalam—perusahaan membutuhkan banyak hal untuk mempersiapkannya.
Gaya kepemimpinan transformasional sangat baik untuk diaplikasikan pada top-level manajemen. Eksekutif yang memiliki power untuk melakukan perubahan akan mendapat banyak manfaat dari gaya kepemimpinan ini.
Salah satu contoh terbaik dari jenis kepemimpinan ini adalah Reed Hastings, co-founder dan kepala eksekutif Netflix, yang berperan penting dalam perubahan industri pembuatan film.
Kepemimpinan transaksional beroperasi dengan memberi imbalan dan hukuman. Sistem kepemimpinan ini memastikan anggota mendapatkan imbalan saat mencapai goal atau target pekerjaan, dan sebaliknya.
Pemimpin transaksional mengasumsikan bahwa anggotanya kekurangan motivasi sehingga memerlukan imbalan (reward) dan hukuman (punishment) untuk mendukung produktivitas. Pemimpin jenis ini mengetahui bagaimana mengelola para anggota.
Secara umum, pemimpin transaksional adalah penganut aturan yang ketat, tapi juga punya karakter yang berterus terang, praktis, dan netral.
Gaya kepemimpinan ini memberi ekspektasi yang jelas kepada anggotanya. Apabila pekerjaan selesai, mereka akan diberi imbalan, dan sebaliknya. Anggota mengetahui apa yang akan mereka dapatkan.
Sebenarnya, lingkungan pekerjaan yang dihasilkan dari kepemimpinan jenis ini cukup fair. Namun, para anggota tidak dapat melihat motivasi lain kecuali imbalan yang akan ia terima. Mereka akan dihantui perasaan takut terhadap hukuman saat menjalankan tugas.
Dalam sistem ini juga hanya ada sedikit relasi emosional antar anggota, setiap pekerjaan dapat dianggap sebagai persaingan. Hal ini menunjukkan bahwa sang pemimpin tidak benar-benar menarik hati anggotanya.
Sebagaimana gaya kepemimpinan otokratis, gaya kepemimpinan ini dapat berfungsi dengan baik di dalam organisasi yang sangat struktural seperti militer. Namun, jenis kepemimpinan ini juga populer dalam bidang olahraga. Pelatih sepakbola, misalnya, akan memberi imbalan atas pencapaian yang dilakukan para pemain.
Apabila organisasi yang kamu kelola berfokus pada hasil dan menjalankan sistem reward and penalty, gaya kepemimpinan ini ideal untuk diterapkan.
Kepemimpinan yang melayani (servant leader) merupakan gaya kepemimpinan yang membuat seorang pemimpin mendahulukan kepentingan bersama di atas urusannya sendiri. Dalam sistem ini, tujuan seorang pemimpin adalah melayani anggotanya. Ini adalah bentuk ekstrem dari pendekatan bottom-up, karena pemimpin hampir tidak pernah memprioritaskan dirinya.
Pemimpin yang bekerja dalam sistem ini selalu mengutamakan hal lain demi kepentingan tim. Dengan kata lain, selfless, tidak memiliki ‘kedirian’. Menurut Robert K. Greenleaf, istilah servant leader muncul pada tahun 1970. Servant leader adalah pendengar yang baik, empatik, self-aware, persuasif, dan memiliki ikatan yang kuat dengan komunitas.
Di satu sisi, kepemimpinan ini bersifat transparan, penuh motivasi, dan otentik. Para anggota dapat menghargai pemimpin karena sangat memperhatikan kebutuhan mereka. Berbagai pendapat selalu didengar dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain, hal ini memberikan peluang yang memungkinkan anggota memanfaatkan atasan mereka. Kepemimpinan ini, dalam praktiknya, juga tidak cocok untuk industri yang berfokus pada output dan data. Selain itu, jenis kepemimpinan ini dapat membuat pengambilan keputusan menjadi rumit karena bergantung pada kolaborasi yang menghabiskan waktu.
Gaya kepemimpinan ini berjalan dengan baik di tempat kerja yang tidak terlalu struktural, yaitu tempat yang membuat para anggota dapat berinovasi dan berkolaborasi. Sebagai contoh: organisasi keagamaan dan organisasi nonprofit.
Kepemimpinan situasional sangat adaptif. Pemimpin yang berada di bawah sistem ini akan menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka sesuai dengan kebutuhan tim atau anggota.
Jenis kepemimpinan ini mengenali dengan baik para anggotanya, dan tahu bahwa setiap anggota memiliki karakter yang berbeda-beda. Dengan begitu, pemimpin akan menyesuaikan gaya kepemimpinan yang cocok saat berhadapan dengan anggota tertentu.
Jenis kepemimpinan ini bersifat proaktif dan memahami bahwa perubahan adalah hal yang abadi, bahkan di tempat kerja.
Pemimpin yang situasional adalah orang yang adaptif, fleksibel, dan berwawasan luas. Secara umum, mereka dapat membaca situasi. Jenis pemimpin ini memahami kapan timnya memerlukan arahan, delegasi, atau kebebasan.
Terhadap anggota baru, pemimpin ini akan menjadi seorang mentor. Sementara itu, terhadap anggota senior, mereka akan mengadopsi gaya laissez-faire.
Gaya kepemimpinan ini dapat memotivasi dan membantu anggota memahami situasi, sehingga mereka dapat melakukan pekerjaan dengan tepat.
Namun, agar gaya kepemimpinan ini dapat berjalan dengan baik, pemimpin harus punya pengetahuan yang tinggi terhadap tiap fungsi yang berbeda. Hal ini sangat krusial, karena pengetahuan yang baik dibutuhkan untuk setiap pengambilan keputusan penting organisasi.
Apabila terlalu sering melakukan perubahan taktik dan pendekatan, para anggota juga dapat kehilangan arah. Hal itu dapat meningkatkan level stres para anggota, dan membuat mereka kebingungan dengan goal yang dituju.
Kepemimpinan yang situasional terjadi di mana-mana, hampir setiap zaman, tetapi para pemimpinnya tidak menyadari. Ambil contoh rumah sakit, seorang dokter akan mengawasi perawat dan tenaga medis lain, bahkan mendelegasikan beberapa tugas. Namun, terhadap seorang spesialis, dokter akan mengambil gaya kepemimpinan kolaboratif dan partisipatif, sehingga mereka dapat menyelesaikan tindakan medis tertentu.
Jenis kepemimpinan ini juga ideal bagi perusahaan startup atau perusahaan lain yang memerlukan perubahan berkala di dalam sistem kerja. Gaya ini membuat para anggota dapat lebih fleksibel dalam menjalankan tugasnya—mereka dapat menukar pekerjaan atau menambahnya sesuai kebutuhan.
Gaya kepemimpinan karismatik muncul saat pemimpin mendayagunakan kemampuan komunikasi, persuasi, dan pesonanya untuk memengaruhi orang lain. Pemimpin karismatik dapat mendorong anggota untuk percaya bahwa mereka dapat mencapai tujuan bersama. Singkatnya, pemimpin karismatik dapat menguasai panggung!
Biasanya, pemimpin karismatik memiliki positive vibes. Saat berada di ruangan, pemimpin karismatik menjadi peran utama. Mereka memiliki rasa percaya diri dan tahu bagaimana cara berkomunikasi, mendongeng, bahkan menggunakan humor. Namun, mereka juga adalah orang yang rendah hati dan dapat menggunakan bahasa tubuh dengan sangat baik.
Memiliki kepercayaan diri, pemimpin karismatik dapat begitu menginspirasi. Dalam lingkungan yang tepat, ia bisa mendorong rekan-rekannya dan membuat anggota merasa didengar. Namun, penting untuk menekankan bahwa, tidak seperti gaya kepemimpinan yang lain, kepemimpinan karismatik ditentukan oleh bagaimana individu merepresentasikan dirinya.
Seseorang mungkin dapat menjadi pemimpin karismatik, tetapi ia bukanlah pemimpin sejati. Ia tidak memiliki skill manajemen yang layak. Di sisi lain, pemimpin karismatik rentan terjatuh ke dalam narsisme dan lebih mementingkan dirinya atas orang lain.
Pemimpin karismatik memiliki skill komunikasi yang baik dan aura yang positif. Gaya kepemimpinan ini dapat diaplikasikan saat tampil di hadapan publik. Selain itu, pemimpin karismatik dapat memotivasi dan mengajak anggotanya memperbaiki organisasi saat dilanda krisis.
Gaya kepemimpinan ini berfokus pada pertumbuhan individu. Seorang pemimpin di bawah sistem ini hadir saat anggota membutuhkan perhatian yang khusus. Kamu dapat menemukan pemimpin-pelatih/coaching leader di hampir semua industri olahraga.
Gaya kepemimpinan ini berfungsi agar anggota dapat memperbaiki kelemahannya, membangun kekuatannya, dan meraih potensi maksimal mereka.
Para pemimpin di bawah sistem ini berfokus pada pertumbuhan diri anggotanya. Pemimpin-pelatih menciptakan beberapa tujuan jangka panjang dan jangka pendek untuk dicapai. Namun, secara lebih spesifik, pemimpin jenis ini memiliki perhatian yang khusus pada masa depan dan capaian jangka panjang.
Pemimpin-pelatih juga adalah seseorang yang dapat dipercaya, fokus pada proses belajar, dan pendengar yang baik.
Pemimpin-pelatih memiliki kemampuan yang hebat untuk memotivasi dan mendukung anggotanya. Di bawah pemimpin semacam ini, anggota dikenal dengan baik dan dipandang dengan unik. Pemimpin-pelatih tahu bahwa anggotanya memiliki sifat dan skill yang berbeda.
Dengan kepemimpinan ini, keberagaman dapat dihargai, setiap anggota dapat membawa sesuatu yang berbeda. Namun, gaya kepemimpinan pelatihan ini membutuhkan banyak tenaga dan konsistensi. Tidak semua orang mampu memilikinya.
Terapkan gaya kepemimpinan ini untuk menunjang pertumbuhan diri anggota dan membantu mereka menumbuhkan problem-solving skill. Jenis kepemimpinan ini juga cocok kalau kamu sedang membangun kultur perusahaan yang kuat.
Kepemimpinan visioner adalah tipe kepemimpinan yang berfokus pada visi sehingga perusahaan dan anggotanya dapat mencapai goal di masa depan. Di bawah kepemimpinan ini, goal perusahaan harus dirancang dengan jernih. Beberapa inovator terhebat masa kini merupakan pemimpin yang visioner.
Pemimpin visioner memiliki ide besar serta kemauan yang kuat untuk mencapainya. Pemimpin jenis ini biasanya memiliki dorongan yang luar biasa dan dapat mengajak anggotanya untuk merasakan dorongan yang sama. Selain itu, pemimpin visioner berorientasi pada hasil dan motivasi.
Pemimpin visioner dapat meningkatkan value perusahaan. Mereka merupakan para pengambil risiko, dan saat segalanya berjalan dengan baik, mereka dapat menciptakan perusahaan raksasa seperti Apple dan Facebook.
Namun, pemimpin visioner dapat memiliki cara berpikir yang hanya satu arah. Ia membutuhkan pemimpin lain yang ada di sekitarnya untuk mendukung dan memastikan tidak ada hal yang hilang selama proses membangun.
Kalau organisasi kamu fokus pada pertumbuhan di masa depan, gaya kepemimpinan ini dapat berfungsi dengan baik. Sebagai seorang pemimpin visioner, kamu harus bisa melihat hambatan yang menghadang dan memetakan rencana aksi. Kamu juga perlu untuk meningkatkan kinerja dan kepercayaan diri anggota.
Mirip dengan kepemimpinan otokratis, ciri kepemimpinan birokratis adalah punya arahan yang jernih. Perbedaannya adalah bahwa kepemimpinan birokratis tidak dikuasai oleh hanya satu orang.
Namun, pemimpin birokratis menerapkan sistem aturan, prosedur, dan persetujuan yang kompleks.
Pemimpin birokratis sangat mempertahankan tatanan hierarkis. Mereka menjaga status quo dan mengekspektasikan setiap anggota melakukan hal yang sama. Mereka biasanya berorientasi pada tugas atau task-oriented, memiliki mindset yang kuat, serta bersedia menjalankan pekerjaan yang sulit.
Jenis kepemimpinan birokratis cukup fair karena tidak memihak anggota tertentu. Ada tugas bersama, keamanan bekerja, dan prediktabilitas dalam pekerjaan. Di dalam kepemimpinan ini dimungkinkan efisiensi karena adanya arahan yang jelas.
Namun, dalam gaya kepemimpinan ini, anggota tidak diizinkan untuk berinovasi dan hanya ada sedikit ruang untuk kreativitas. Selain itu, gaya ini tidak cocok untuk perusahaan/organisasi yang memiliki goal besar dan pertumbuhan yang cepat.
Kepemimpinan birokratis umum digunakan oleh perusahaan atau organisasi pemerintah. Dengan mengadopsi gaya ini, organisasi pemerintah dapat diatur secara efisien demi kepentingan publik.
Gaya kepemimpinan ini juga biasa diterapkan di perusahaan konstruksi, karena ada aturan tertentu yang mengekang. Perusahaan besar yang telah melewati proses perjuangan juga cocok untuk menerapkan gaya kepemimpinan ini. Hal itu karena perusahaan seperti ini fokus untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan dan tidak lagi melakukan banyak uji coba.
Quiet leadership, secara harfiah, adalah kepemimpinan yang penuh ketenangan. Dalam sistem kepemimpinan ini, pemimpin adalah pendengar yang baik, dan memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai pendapat.
Seorang quiet leader tidak takut saat orang lain tampak lebih bersinar. Terkadang ia seperti berada di bawah sistem servant - selfless. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk memimpin sebuah tim tanpa menjadikan diri mereka pusat perhatian atau center of attention.
Mereka adalah orang yang rendah hati, berwawasan luas, dan yang paling penting bersahaja. Mereka berpikir sebelum berbicara dan mendengarkan pendapat para anggota. Pembicaraannya selalu disertai dengan wawasan dan analisis.
Quiet leadership membuka kesempatan kepada tim untuk menjadi kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan tugas. Para anggota memiliki otonomi di dalam pekerjaan tanpa ketakutan terhadap teguran.
Namun, gaya kepemimpinan ini memiliki sangat sedikit toleransi pada nonsens atau omong kosong. Seorang quiet leader perlu waktu yang cukup untuk mempersiapkan jawaban apabila ia ditanya oleh anggota. Hal ini membuat para anggota yang membutuhkan jawaban cepat merasa tidak nyaman.
Kalau budaya organisasi yang kamu kelola sedang tidak terburu-buru, sehingga memiliki waktu untuk membuka diskusi yang matang, maka gaya kepemimpinan ini cocok.
Pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan task-oriented mendahulukan output di atas anggotanya. Di bawah kepemimpinan ini, anggota menerima tugas, dan pemimpin merancang metode dan deadline untuk memastikan semua orang mengirim tugasnya tepat waktu.
Pemimpin di bawah gaya kepemimpinan task-oriented selalu fokus pada output, hasil, dan data. Pemimpin selalu ingin melihat persoalan secara objektif, sehingga tujuan dapat dicapai. Deadline harus dipatuhi. Selain itu, pemimpin ini akan selalu mengawasi para anggota supaya menjalankan tugas persis sesuai arahan.
Dengan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas, kamu bisa mencapai lebih banyak tujuan. Hal itu karena jadwal dan deadline telah ditetapkan. Karena tujuan dan ekspektasi jelas, anggota dapat mempertahankan konsistensi, sehingga manajemen waktu tetap terjaga.
Namun, saat task-oriented diterapkan, hubungan interpersonal dengan rekan kerja dapat menurun. Hal itu disebabkan adanya waktu yang terus-menerus mengejar, silih berganti, sehingga membuat anggota merasa tertekan dalam menyelesaikan pekerjaan dan jarang berkomunikasi dengan rekan.
Jabatan project manager selalu dianggap sebagai perwujudan dari task-oriented leadership. Bagi pemimpin yang menghadapi berbagai proyek, jenis kepemimpinan ini sering menjadi satu-satunya pilihan yang dapat membantu memastikan adanya pertemuan antara target dan deadline.
Goal yang dirancang di bawah gaya kepemimpinan people-oriented sangat berbeda dengan task-oriented. Sebagai contoh, mereka menempatkan kepuasan anggota sebagai prioritas utama. Organisasi yang menerapkan kepemimpinan people-oriented percaya bahwa dengan berfokus pada manusia, produktivitas dapat tercapai.
Organisasi yang berorientasi pada manusia/people-oriented tidak melihat pekerja sebagai alat untuk mencapai tujuan. Bagi seorang pemimpin people-oriented, manajer dan pekerja bisa memiliki nilai yang setara. Mereka mengerahkan upaya untuk melindungi kesehatan mental, fisik, dan emosional setiap orang di tempat kerja dan percaya bahwa karyawan yang bahagia akan menghasilkan produktivitas yang optimal.
Pemimpin yang menerapkan people-oriented memberdayakan anggotanya agar dapat bekerja secara independen dan memberi mereka kesempatan untuk mengambil risiko. Anggota merasa mereka dipercaya dan dihargai. Gaya kepemimpinan ini juga dapat menurunkan tingkat turnover karena pekerjaan yang dibebankan telah disesuaikan dengan kebutuhan dan ekspektasi anggotanya.
Di sisi lain, kalau anggota terlalu nyaman dan friendly, batasan-batasan dapat hilang. Selain itu, pemimpin akan sulit untuk memberhentikan atau sekadar mengistirahatkan anggotanya karena alasan kedekatan.
Sulit untuk menemukan perusahaan besar dengan gaya kepemimpinan people-oriented. Namun, jenis kepemimpinan ini dapat dilihat di beberapa divisi perusahaan tersebut. Sebagai contoh, divisi Human Resources (HR) dapat menerapkan kepemimpinan people-oriented.
Google, secara keseluruhan, mungkin adalah perusahaan yang task-oriented, tetapi divisi HR-nya dapat memperlakukan anggota selayaknya kepemimpinan people-oriented.
Kepemimpinan adaptif muncul sebagai jawaban atas masalah yang kompleks. Jenis kepemimpinan ini mendayagunakan kreativitas dari berbagai level anggota untuk mengatasi berbagai masalah.
Kepemimpinan adaptif, yang mulai umum diterapkan sejak pandemi COVID-19, dibangun atas 4 A: antisipasi, artikulasi, adaptasi, dan akuntabilitas. Pemimpin yang adaptif dapat memakai gaya kepemimpinan tertentu pada saat yang terbaik.
Pemimpin jenis ini beroperasi dengan mempersiapkan kebutuhan masa depan, mengartikulasikan kebutuhan jajaran, menggunakan metode yang kontekstual, serta memperhitungkan dan bertanggung jawab atas tiap tindakan mereka.
Tentunya, pemimpin adaptif memiliki skill analisis dan problem-solving yang baik. Sebab, perubahan yang terjadi harus segera terbaca sebagai langkah awal untuk melakukan adaptasi. Selain itu, pemimpin adaptif tidak takut dengan tantangan, proaktif, dan berkomitmen kuat.
Kepemimpinan adaptif selalu melihat perubahan sebagai hal yang positif. Gaya kepemimpinan yang fleksibel membuka kesempatan bagi organisasi untuk berubah dan melakukan inovasi. Gaya kepemimpinan ini mempertimbangkan input dari anggota dari berbagai level, sehingga menjunjung inklusivitas.
Di bawah kepemimpinan ini, kamu perlu mendapat dukungan dari seluruh anggota. Mendapatkan dukungan bukan perkara yang mudah karena sebagai seorang pemimpin adaptif, kamu perlu meyakinkan orang untuk mengubah mindset dan cara mereka berpikir. Selain itu, beberapa anggota organisasi mungkin merasa kesulitan untuk mengubah gaya bekerja. Itu terjadi karena mereka sudah terlalu lama berada di zona nyaman.
Pertimbangkan untuk menerapkan jenis kepemimpinan ini apabila organisasi kamu sedang dilanda krisis —atau tantangan— yang membuat kamu perlu melakukan perubahan di sana-sini.
Memang bukan hal yang umum untuk menerapkan lebih dari satu gaya kepemimpinan sekaligus. Namun, di tahun 2023, hal itu sangat dianjurkan. Sebab, pekerja/anggota ingin mendapatkan atasan yang dinamis, yang dapat memahami kebutuhan mereka.
Di bawah ini adalah beberapa manfaat kalau kamu menerapkan berbagai gaya kepemimpinan sekaligus:
Sebaliknya, jika ingin menerapkan lebih dari satu gaya kepemimpinan, kamu harus tahu risikonya. Berikut beberapa hal yang perlu kamu atasi:
Banyak gaya kepemimpinan yang diterapkan di berbagai organisasi, tapi tidak ada yang secara objektif “terbaik”. Selain harus disesuaikan dengan karakter dan sifatmu, hal yang harus diperhatikan saat memilih gaya kepemimpinan adalah karakter anggota dan situasi yang kamu hadapi.
Untuk kamu yang ingin mempelajari skill kepemimpinan, kamu bisa mengawalinya bersama SeekMAX! Melalui SeekMAX kamu bisa langsung belajar dari para ahlinya.
Kalau kamu punya goal untuk mendapat posisi pemimpin di pekerjaan, ini saatnya untuk memperbarui profil JobStreet kamu dengan skill terbaru! Kamu juga bisa memulai dengan mendaftar jika belum memiliki akun.
Temukan juga informasi berguna lainnya untuk pengembangan karier kamu di laman Tips Karier kami. Di sana, kamu akan menemukan berbagai tips seputar cara melamar kerja, jenjang karier dan bidang tertentu, serta tips lainnya mengenai pekerjaan.
Jadi, tunggu apa lagi? Download aplikasi JobStreet di Google Play Store dan Apple App Store sekarang!
Luangkan waktu untuk merenungkan kembali karakter kamu dan tim.
Jadi role model untuk tim. Praktikkan apa yang kamu bicarakan dan tunjukkan bagaimana mereka harus bertindak.
Mendengar. Tunjukkan bahwa kamu menghargai pendapat dan masukan mereka.
Kepemimpinan otokratis
Kepemimpinan demokratis
Kepemimpinan laissez-faire
Kepemimpinan transformasional
Kepemimpinan transaksional
Kepemimpinan melayani / servant leadership
Kepemimpinan situasional
Kepemimpinan karismatik
Kepemimpinan pelatihan
Kepemimpinan visioner
Kepemimpinan birokratis
Kepemimpinan tenang
Kepemimpinan task-oriented
Kepemimpinan people-oriented
Kepemimpinan adaptif