Hustle Culture: Arti, Penyebab, dan Dampaknya di Tempat Kerja

Hustle Culture: Arti, Penyebab, dan Dampaknya di Tempat Kerja
Jobstreet tim kontendiperbarui pada 07 November, 2024
Share

Hustle culture adalah istilah yang sedang populer di kalangan pekerja muda dan profesional. Istilah itu mengacu pada gaya hidup yang memprioritaskan kerja keras dan produktivitas berlebihan. 

Banyak orang yang beranggapan hustle culture merupakan sesuatu yang baik dan patut dibanggakan. Namun, tidak sedikit yang menentang karena kebiasaan ini berdampak negatif dalam jangka panjang. 

Sebenarnya, apa itu hustle culture? Apa saja dampak hustle culture dalam kehidupan, terutama di dunia kerja?  Bagaimana cara mengatasi hustle culture yang memberikan efek negatif? Mari kita bahas selengkapnya dalam artikel ini! 


⁠Apa Itu
Hustle Culture? 

Ilustrasi seorang karyawan yang punya gaya bekerja hustle culture. (Sumber: Envato)

Punya aktivitas yang produktif tentu merupakan sesuatu hal yang positif. Namun, jika produktivitas tersebut berlangsung berlebihan, dampaknya bisa sangat buruk. Inilah yang menjadi gambaran gaya hidup hustle

Arti hustle culture adalah mentalitas kerja yang mendorong seseorang untuk bekerja keras terus-menerus dan mengabaikan aspek lain dari kehidupannya. 

Dalam budaya ini, produktivitas tinggi dianggap sebagai kunci utama menuju kesuksesan. Bahkan, sering lembur dan tidak punya waktu untuk beristirahat menjadi hal yang biasa bagi penganut hustle culture

Menurut Impact Plushustle culture dianggap sebagai standar baru. Pasalnya, seseorang baru disebut sukses jika dia sudah bekerja sekeras-kerasnya. Ketika seseorang terjebak dalam hustle culture, kehidupan profesional dan pribadi menjadi tidak seimbang. 

Akibatnya, ia akan kehilangan work life balance sekaligus menciptakan workaholism atau workaholic.

Di Indonesia, fenomena hustle culture sering ditemukan di startup teknologi yang punya ritme kerja cepat. Bahkan, karyawan sering bekerja melebihi jam kerja standar. Hal itu mencerminkan budaya fast-paced, di mana keseimbangan antara hidup dan kerja sering terabaikan.

Baca Juga: Staff PPIC: Ini Tugas, Tanggung Jawab, dan Keahliannya!


⁠⁠Faktor Penyebab
Hustle Culture 

Seorang pekerja tampak kelelahan karena terjebak dalam gaya hustle culture. (Sumber: Envato)

Dalam hustle culture, kesuksesan diukur dari seberapa keras seseorang bekerja dan seberapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk bekerja. Pemicunya bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: 

Pengaruh media sosial 

Pada era digital, fenomena hustle culture semakin kuat karena media sosial. Banyak tokoh atau influencer yang menceritakan cara mencapai kesuksesan dengan bekerja tanpa henti.

Nah, konten dari tokoh atau influencer itu secara tidak langsung menormalisasi kerja keras 24/7. Akibatnya, orang yang terpengaruh merasa tidak aman dan terdorong untuk meniru gaya hidup tersebut.

Ketika melihat orang lain yang sukses dan sibuk, muncul kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang tersebut. 

Slogan seperti "work hard, play hard" atau "grind until you succeed" menjadi ciri khas dari hustle culture. Pada akhirnya, ini akan memicu orang yang melihatnya untuk mengikuti gaya hustle culture tersebut. 

Tekanan sosial dan budaya 

Tekanan sosial untuk meraih kesuksesan, terutama dalam hal karir dan finansial, adalah salah satu penyebab hustle culture. Apalagi, ditambah ekspektasi masyarakat terhadap kesuksesan dan pencapaian materi 

Akibatnya, banyak orang merasa harus bekerja lebih keras untuk mencapai standar ini dan diakui oleh lingkungan sosialnya. 

Keinginan untuk sukses 

Keinginan kuat untuk mencapai kesuksesan finansial memicu meningkatnya hustle culture. Banyak orang yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih melalui dedikasi penuh dan kerja keras tanpa henti. 

Pandangan ini sudah tertanam sejak dini, baik melalui keluarga maupun sistem pendidikan. Hal tersebut secara tidak langsung mendorong mereka untuk terus bekerja keras demi mencapai sesuatu dalam hidup. 

Kurangnya batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi 

Aksesibilitas pekerjaan 24/7 melalui teknologi membuat berkurangnya keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Hal ini membuat seseorang merasa selalu terhubung dan tertekan untuk terus bekerja. 

Di beberapa perusahaan, jam kerja yang panjang dan budaya lembur sudah menjadi norma. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi hustle culture

Karyawan pun merasa tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri dan bekerja lebih keras agar sesuai dengan budaya perusahaan.


⁠Ciri-ciri
Hustle Culture di Tempat Kerja 

Seorang karyawan yang punya gaya bekerja hustle culture tampak serius bekerja. (Sumber: Envato)

Kebiasaan hustle culture di tempat kerja bisa muncul dalam berbagai bentuk. Nah, beberapa ciri-ciri hustle culture di tempat kerja adalah sebagai berikut: 

Bekerja berlebihan tanpa henti 

Hustle culture ditandai saat seseorang terjebak dalam siklus kerja tanpa henti. Tak jarang, ia akan bekerja melebihi jam kerja normal, bahkan di akhir pekan dan hari libur. Istirahat dan waktu luang pun dianggap tidak penting karena dapat menghambat pencapaian. 

Hal ini dapat mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Dalam jangka panjang, penurunan produktivitas pun sangat mungkin terjadi. 

Terobsesi dengan kesuksesan 

Fokus utama orang dengan hustle culture adalah mencapai target dan kesuksesan secara profesional. Validasi diri mereka diukur dari pencapaian kerja, bukan kebahagiaan atau keseimbangan hidup. 

Untuk meraih kesuksesan dalam karir, ia akan mengabaikan aspek lain dalam hidup. Karena tekanan untuk terus berprestasi, standar ini pun menjadi tidak realistis. Jika dibiarkan, hal itu bisa menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. 

Merasa bersalah saat istirahat 

Rasa cemas dan bersalah ketika mengambil waktu untuk beristirahat adalah ciri-ciri lain hustle culture. Orang yang terjebak dalam hustle culture menganggap istirahat sebagai kemalasan dan penghambat produktivitas. 

Lama kelamaan, hal itu dapat memperburuk kelelahan fisik dan mental, serta menghambat pemulihan dan kesejahteraan. 

Sulit memisahkan waktu pribadi dan pekerjaan 

Batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur saat terjebak dalam hustle culture. Pekerjaan selalu ada di pikiran, bahkan di luar jam kerja. 

Ketika berkumpul bersama keluarga atau teman, orang yang menganut hustle culture pun cenderung merasa tidak tenang. Hal itu tentunya dapat merusak hubungan pribadi dan menyebabkan konflik dengan orang-orang terdekat jika terus dibiarkan. 

Selalu membandingkan diri dengan orang lain 

Kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain merupakan ciri umum dari hustle culture. Di sisi lain, muncul juga perasaan harus selalu menunjukkan bahwa kamu bekerja keras, terutama di media sosial.

Padahal, rasa iri, tidak puas, dan tekanan untuk terus meningkatkan pencapaian bisa berakibat fatal bagi kesehatan mental.

Baca Juga: Apa Itu Event Organizer? Inilah Tugas dan Cara Kerjanya!


⁠Dampak Negatif
Hustle Culture 

Seorang karyawan memilih terus bekerja pada akhir pekan karena budaya hustle culture. (Sumber: Envato)

Meskipun terlihat seperti budaya yang mendorong produktivitas dan pencapaian, hustle culture memiliki banyak dampak negatif. Sayangnya, dampak tersebut sering kali diabaikan, baik secara fisik maupun mental. 

Berikut ini beberapa dampak negatif dari hustle culture

Stres, kecemasan, dan depresi 

Bekerja berlebihan dan tekanan untuk mencapai target dapat memicu kelelahan secara mental. Jika terjebak dalam hustle culture, kamu akan mudah mengalami stres, cemas, bahkan depresi. Pada akhirnya, kesehatan mental kamu secara keseluruhan akan terganggu.

Burnout 

Terlalu banyak bekerja tanpa henti bisa menyebabkan burnout, yakni kelelahan fisik, emosional, dan mental yang parah. 

Nah, jika terus dibiarkan, burnout dapat menyebabkan berbagai gejala seperti kelelahan kronis, kehilangan motivasi, hingga penurunan kinerja. 

Kurangnya waktu untuk istirahat 

Mengorbankan waktu istirahat untuk bekerja dapat berakibat fatal bagi kesehatan fisik dan mental. Kurangnya tidur dapat menyebabkan kelelahan, kesulitan fokus, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. 

Memicu masalah kesehatan fisik 

Hustle culture dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan fisik, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, hingga masalah pencernaan. 

Memburuknya ikatan sosial 

Menempatkan pekerjaan di atas segalanya dapat menyebabkan hubungan yang tegang dan terabaikan dengan keluarga, teman, dan kerabat. Kurangnya waktu dan perhatian untuk orang-orang terkasih tentunya dapat merusak hubungan dan menyebabkan kesepian. 

Eksploitasi 

Hustle culture juga dapat mendorong budaya kerja yang tidak setara dan eksploitatif. Apabila perusahaan membiarkan gaya hidup ini menjamur, itu bisa memicu eksploitasi karyawan. 

Tekanan untuk bekerja berlebihan dan upah rendah adalah dua dampak negatif yang pasti akan muncul ketika pekerja diperlakukan tidak adil. 

Norma sosial yang tidak sehat 

Hustle culture dapat menormalisasi norma sosial yang tidak sehat dan tidak berkelanjutan. Gagasan bahwa bekerja berlebihan adalah satu-satunya cara untuk mencapai kesuksesan bisa mengakibatkan seseorang mengorbankan kesehatan mereka. Selain itu, hal tersebut bisa membuat orang merasa tidak pernah puas dengan hasil kerja mereka sendiri.

 

Dampak Positif Hustle Culture 

Ilustrasi budaya hustle culture di tempat kerja. (Sumber: Envato)

Terlepas dari berbagai dampak negatifnya, hustle culture juga memiliki sejumlah dampak positif. Namun, dampak positif ini baru akan dapat dirasakan jika kamu mempraktikkannya dengan cara yang sehat dan seimbang. 

Berikut adalah beberapa dampak positif hustle culture

Peningkatan pencapaian dan produktivitas 

Etos kerja yang tinggi dan dedikasi yang besar dalam hustle culture dapat mendorong individu untuk mencapai target. Ia juga akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien. Hal ini dapat meningkatkan pencapaian individu dan produktivitas tim secara keseluruhan. 

Etos kerja yang kuat dan disiplin 

Hustle culture dapat menumbuhkan etos kerja yang kuat dan disiplin pada seseorang. Kebiasaan bekerja keras dan menyelesaikan tugas tepat waktu dapat menjadi aset berharga dalam dunia profesional dan kehidupan pribadi. 

Kepuasan dalam bekerja 

Mencapai tujuan dan menyelesaikan pekerjaan dengan sukses dapat memberikan rasa puas. Kamu cenderung merasa bangga karena hasil pekerjaanmu lebih optimal saat menerapkan hustle culture

Pengalaman itu secara tidak langsung dapat memotivasi untuk terus berkembang dan mencapai target yang lebih tinggi. 

Peluang untuk mencapai tujuan 

Hustle culture juga dapat membuka peluang bagi individu untuk mencapai tujuan dan aspirasi mereka. Dengan kerja keras dan dedikasi, kamu dapat meningkatkan karir, mencapai kesuksesan finansial, dan mewujudkan impian. 

Perlu diingat, hustle culture hanya akan memberikan dampak positif jika dipraktikkan dengan cara yang sehat dan seimbang, ya!


⁠Cara Mengatasi
Hustle Culture 

Hustle culture sebenarnya bukan hanya terjadi di dunia kerja saja. Hustle culture mahasiswa hingga hustle culture generasi Z juga kerap kita temukan. 

Mereka yang terjebak dalam gaya hidup ini cenderung tidak punya banyak waktu untuk kehidupan pribadi. Hal tersebut adalah salah satu bentuk toxic positivity.  Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan:

Tetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi 

Cara pertama untuk menghindari dampak negatif hustle culture adalah memisahkan waktu untuk bekerja dan waktu untuk kehidupan pribadi secara tegas. Cobalah untuk tidak mengecek email pekerjaan di luar jam kerja. 

Alih-alih mengecek pekerjaan, dedikasikan waktu luang kamu untuk diri sendiri, keluarga, dan teman saat bersantai. Selain itu, cobalah untuk menciptakan ruang mental dan fisik yang terpisah untuk setiap aspek kehidupan. Dengan begitu, kamu dapat fokus dan menikmati momen-momen berharga di luar pekerjaan. 

Prioritaskan kesehatan fisik dan mental 

Menjaga kesehatan fisik dan mental sama pentingnya dengan mengejar kesuksesan dalam karir. Jadi, pastikan kamu mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan mendapatkan tidur yang cukup, ya!. 

Luangkan waktu untuk relaksasi dengan melakukan meditasi, yoga, atau aktivitas yang kamu sukai. Ingatlah bahwa tubuh dan pikiran yang sehat adalah modal utama untuk menjalani hidup dengan optimal. 

Belajar mengatakan “tidak” 

Dalam dunia kerja, kamu sebenarnya punya hak untuk menolak tugas atau tanggung jawab tambahan di luar job desc kamu. 

Jadi, jangan ragu untuk mengatakan “tidak” jika kamu merasa sudah memiliki beban kerja yang terlalu banyak. Hal ini berlaku juga jika hal tersebut mengganggu waktu pribadimu. Prioritaskan diri sendiri dan waktumu, dan jangan merasa bersalah untuk melakukannya. 

Luangkan waktu untuk beristirahat dan bersantai 

Istirahat dan bersantai sama pentingnya dengan bekerja. Dengan beristirahat, kamu pun dapat kembali fokus dan produktif setelah kembali bekerja. Coba hilangkan rasa tidak enak ketika ingin mengambil cuti liburan atau izin saat sakit.

Selain itu, tidak ada salahnya melakukan hobi di luar pekerjaan yang kamu sukai untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan. 

Bangun hubungan yang sehat 

Luangkan waktu berkualitas dengan orang-orang terkasih untuk membangun hubungan yang sehat dan saling mendukung. Hubungan yang sehat menjadi sumber kekuatan dan dukungan saat kamu menghadapi stres dan tantangan dalam pekerjaan. 

Dukungan sosial yang kuat tentunya dapat membantu kamu meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional.

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah dengan mencoba slow living. Ketika sudah membandingkan slow living vs hustle culture, kamu akan dengan mudah menentukan gaya hidup seperti apa yang lebih sehat untukmu. 


⁠Kesimpulan
 

Hustle culture adalah gaya hidup yang memprioritaskan kerja keras dan produktivitas secara berlebihan, bahkan sampai mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan pribadi. 

Meskipun tampak sebagai jalan menuju kesuksesan, hustle culture sebenarnya bisa memberikan dampak negatif. Dengan mengenali dampak negatifnya dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi hustle culture, kamu akan bisa menciptakan hidup yang sehat. 

Ingatlah, dibanding bekerja berlebihan, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan dan keberhasilan jangka panjang. 

Untuk itulah, mulailah tetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta cobalah membangun hubungan yang sehat dengan orang terdekat. Dengan demikian, kamu akan dapat mencapai kesuksesan yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan diri sendiri. 

Nah, apakah kamu memiliki ciri-ciri hustle culture seperti yang disebutkan di atas? Jika iya, penting untuk kamu melakukan evaluasi diri dan mencari tahu cara mengatasinya. Setelah itu, kamu bisa mulai menggapai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 

Yuk, persiapkan diri kamu untuk menembus pekerjaan impian dengan membaca berbagai informasi dan Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK. Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dan terhubung dengan pakar industri di KariKu dalam aplikasi Jobstreet. 

Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja yang tepat.  

Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam satu genggaman saja! Semoga berhasil!


⁠Pertanyaan Seputar Hustle Culture

  1. Apa perbedaan antara hustle culture dan etos kerja yang Positif?
    Hustle culture adalah budaya di mana kesuksesan diukur dari seberapa keras seseorang bekerja. Budaya itu sering kali mengabaikan keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi. Di sisi lain,etos kerja yang positif adalah motivasi untuk bekerja keras dengan tujuan yang jelas, namun tetap memperhatikan kesejahteraan fisik, mental, serta keseimbangan hidup.
  2. Bagaimana cara menghadapi tekanan sosial untuk mengikuti hustle culture?
    Untuk menghadapi tekanan sosial terkait trend hustle culture, kamu harus memahami bahwa nilai-nilai kesuksesan tidak selalu harus diukur dari seberapa keras kita bekerja. Jadi, tetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Lalu, ingatkan diri sendiri bahwa kesehatan dan keseimbangan hidup adalah hal yang penting. Menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai ini dapat membantu mengurangi tekanan sosial.
  3. Apakah hustle culture selalu berbahaya?
    Meskipun dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental, hustle culture tidak selalu berbahaya. Dalam beberapa konteks, semangat kerja keras dapat memotivasi individu untuk mencapai tujuan mereka. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, hustle culture dapat menyebabkan kelelahan kronis, stres berlebihan, dan ketidakseimbangan hidup, yang tentunya sangat berbahaya.
  4. Apa perbedaan antara hustle culture dan dedikasi?
    Perbedaan antara hustle culture dan dedikasi terletak pada fokus dan keseimbangan. Hustle culture menekankan pada kerja keras tanpa henti yang seringkali mengorbankan aspek-aspek lain dalam hidup. Di sisi lain, dedikasi adalah komitmen untuk mencapai tujuan tertentu dengan memperhatikan keseimbangan dan kesejahteraan secara keseluruhan.
  5. Apakah hustle culture sama dengan workaholic?
    Hustle culture memiliki kesamaan dengan workaholic dalam hal mengutamakan pekerjaan di atas segalanya. Namun, workaholic sering kali berasal dari dorongan internal yang kuat untuk terus bekerja. Di lain sisi, hustle culture lebih berkaitan dengan tekanan sosial dan budaya yang mendorong individu untuk mengejar kesuksesan melalui kerja keras yang berlebihan.

More from this category: Kehidupan kerja

Telusuri istilah pencarian teratas

Tahukah Anda bahwa banyak kandidat yang menyiapkan resume dan meneliti suatu industri dengan menjelajahi istilah pencarian teratas?

Berlangganan Panduan Karir

Dapatkan saran karier dari ahli yang dikirimkan ke kotak masuk Anda.
Anda dapat membatalkan email kapan saja. Dengan mengklik 'berlangganan', Anda menyetujui Pernyataan Privasi Jobstreet.