Apa itu Cost (Biaya)? Ini Jenis dan Klasifikasinya

Apa itu Cost (Biaya)? Ini Jenis dan Klasifikasinya
Jobstreet tim kontendiperbarui pada 26 May, 2026
Share

Ringkasan

  • Cost (biaya) adalah total dana (modal) yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam proses memproduksi barang atau jasa agar bisa mendatangkan keuntungan finansial di masa depan.
  • Pencatatan cost yang rapi berfungsi krusial sebagai pedoman penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP), tolok ukur efisiensi produksi, dan evaluasi margin profit.
  • Besaran cost sangat dipengaruhi oleh volume aktivitas, harga bahan baku di pasar, kemutakhiran teknologi mesin produksi, serta regulasi pajak dari pemerintah.
  • Cost adalah modal awal untuk memproduksi aset, sedangkan expense adalah nilai aset yang sudah dipakai/berkurang manfaatnya untuk mendukung operasional harian.
  • Menguasai klasifikasi jenis-jenis cost sangat penting bagi siapa saja yang ingin berkarier di bidang Akuntansi Keuangan atau Manajemen Bisnis.

Jika kamu tertarik berkarier di bidang keuangan atau ingin menjadi pebisnis, cost adalah salah satu komponen yang penting untuk kamu pahami. Secara garis besar, cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.

Dengan mengetahui jumlah cost, perusahaan dapat menentukan kebijakan produksi barang, margin keuntungan, hingga harga penjualan produk (HPP).

Dalam konteks sehari-hari, masih ada yang mengira bahwa cost sama dengan expense. Apakah kamu salah satunya? Supaya kamu tidak bingung lagi, yuk kita pelajari bersama soal apa itu cost, jenis-jenisnya, hingga perbedaannya dengan beban (expense) dalam artikel ini!

⁠Apa Itu Cost? 

Menurut Investopediacost atau biaya adalah jumlah uang yang dikeluarkan perusahaan untuk menciptakan produk, baik barang atau jasa. 

Cost mencakup semua kebutuhan dalam proses produksi dan pemasaran, seperti bahan baku, peralatan, tenaga kerja, hingga biaya pasang iklan. 

Dalam operasional perusahaan, besaran biaya yang dihabiskan untuk membuat suatu produk akan sangat memengaruhi harga dan keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan. Itulah mengapa, biaya memiliki fungsi yang penting bagi keberlangsungan bisnis.

⁠Fungsi Biaya 

Seorang pria sedang menghitung cost menggunakan kalkulator.  (Image by snowing on Freepik)

Lebih dari sekadar pengeluaran, biaya berfungsi menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk masa depan perusahaan. Berikut penjelasannya:

1. Pengukuran pengeluaran

Catatan pada bagian biaya memperlihatkan total biaya yang digunakan untuk memproduksi barang atau jasa. Dengan infromasi tersebut, kamu bisa mengukur besar pengeluaran: apakah sesuai dengan kebutuhan produksi atau tidak, jika dibandingkan dengan harga pokok produknya.

2. Pengambilan keputusan

⁠Informasi rincian biaya menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan bisnis, contohnya seperti margin profit.

Dengan cost yang jelas, kamu dapat lebih mudah menghitung margin profit. Alhasil, nantinya harga jual produk yang ditawarkan bisa menutup biaya pengeluaran.

⁠Di sisi lain, harga jual tersebut juga masih sesuai dengan daya beli target konsumen. Jadi, kamu tetap akan menghasilkan keuntungan.

3. Perencanaan dan pengendalian

⁠Fungsi biaya dapat kamu rasakan saat membuat rencana untuk pengeluaran berikutnya. Berdasarkan cost pada produksi periode sebelumnya, kamu bisa menganalisis apakah jumlah biaya sudah sesuai dengan kebutuhan produksi.

Jika belum, cost untuk produksi periode berikutnya pun dapat disesuaikan kembali untuk menghindari kerugian. Dengan kata lain, adanya cost dapat membantu kamu dalam melakukan perencanaan sekaligus pengendalian anggaran.

4. Motivasi dan evaluasi

Biaya termasuk salah satu jenis pengeluaran yang dicatat dalam laporan keuangan perusahaan. Dalam hal ini, fungsi cost adalah menjadi bahan evaluasi dan motivasi bagi manajemen.

Jika jumlah biaya terlalu tinggi atau rendah, pihak manajemen dapat melakukan analisis untuk mengetahui penyebabnya. Dengan begitu, mereka pun bisa segera mengambil tindakan agar anggaran cost pada periode berikutnya lebih optimal.

⁠Itulah kenapa jumlah cost pada tiap periode bisa berbeda. Apalagi, memang terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi besaran biaya. Yuk, ketahui faktor-faktornya pada poin di bawah ini!

⁠Faktor yang Memengaruhi Cost

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi cost adalah volume aktivitas, harga bahan baku, teknologi dan efisiensi produksi, serta peraturan pemerintah. Berikut rinciannya:

1. Volume aktivitas

Semakin tinggi volume aktivitas produksi, semakin besar pula jumlah cost yang dibutuhkan. Hal tersebut terjadi karena peningkatan volume aktivitas pasti membutuhkan banyak bahan baku.

⁠Nah, kondisi tersebut biasanya dipengaruhi oleh permintaan konsumen. Semakin meningkat permintaan konsumen terhadap produk, akan semakin tinggi pula volume aktivitas produksi.

2. Harga bahan baku dan faktor produksi lainnya

⁠Aktivitas produksi tidak akan berjalan tanpa bahan baku. Jadi, harga bahan baku pun berpengaruh langsung terhadap jumlah cost produksi. Apabila harga bahan baku naik, biaya produksi juga ikut meningkat.

Tidak hanya bahan baku, ada beberapa faktor produksi lain yang turut memengaruhi jumlah cost. Contohnya seperti mesin dan perawatannya, transportasi, tenaga kerja, dan biaya untuk pemasaran.

3. ⁠Teknologi dan efisiensi produksi

⁠Faktor lain yang dapat memengaruhi jumlah biaya adalah teknologi. Ketika perusahaan menggunakan teknologi terkini untuk memproduksi barang atau jasa, efisiensi produksi dapat meningkat. Hal ini pun bisa membantu perusahaan menghemat waktu, energi, dan biaya.

⁠Situasi yang berbeda dapat terjadi jika perusahaan tidak up-to-date dengan inovasi teknologi, atau masih menerapkan cara manual. Proses produksi jadi tidak efisien, sehingga butuh lebih banyak sumber daya.

4. Peraturan pemerintah dan pajak

Peraturan pemerintah juga dapat memengaruhi jumlah cost produksi, lho, terutama yang berkaitan dengan pajak. Apabila nilai pajak tinggi, kemungkinan besar cost produksi akan ikut naik. Sebab, harga bahan baku jadi lebih mahal.

Pengaruh pajak dan berbagai faktor tersebut berlaku untuk seluruh jenis cost. Memangnya, jenis biaya terdiri dari apa saja, sih?

Baca Juga: Laporan Laba Rugi: Apa Itu, Fungsi, dan Contohnya

⁠Jenis Klasifikasi Biaya (Cost)

Seorang pria sedang menghitung cost yang tertera di kertas menggunakan kalkulator. (Image by Drazen Zigic on Freepik)

Jenis-jenis biaya dibedakan berdasarkan tiga aspek, yaitu intensitas terjadinya cost, potensi, dan kegiatan operasional. Masing-masing klasifikasi terdiri dari beberapa jenis cost yang lebih spesifik. Berikut penjelasannya:

Klasifikasi Biaya Berdasarkan Intensitas Terjadinya

1. Biaya tetap (fixed cost)

Fixed cost adalah jenis biaya yang jumlahnya tidak berubah. Bahkan jika ada perubahan volume aktivitas, besaran jumlah fixed cost masih akan tetap. Contoh biaya tetap adalah gaji karyawan, biaya sewa gedung, serta pajak bumi dan bangunan.

2. Biaya variabel (variable cost)

Sementara itu, variable cost adalah biaya yang jumlahnya naik-turun karena mengikuti perubahan aktivitas produksi. Jadi, nilai biaya variabel berbanding lurus dengan volume produksi.

Semakin tinggi volume aktivitas produksi, nilai variable cost juga akan naik, dan sebaliknya. Contoh biaya variabel adalah bahan baku, biaya distribusi produk, dan upah lembur karyawan.

3. Biaya campuran (mixed cost)

Ada juga campuran antara biaya tetap dan biaya variabel, yakni mixed cost. Pada jenis cost satu ini, biaya tetap menjadi biaya minimum untuk menunjang produksi. Sementara itu, biaya variabel dipengaruhi oleh volume produksi.

Beberapa contoh biaya campuran adalah biaya pemeliharaan aset, tagihan listrik, biaya telepon, dan biaya perjalanan dinas.

⁠Klasifikasi Biaya Berdasarkan Potensinya

1. Biaya peluang (opportunity cost)

Opportunity cost adalah biaya yang dapat meningkatkan keuntungan perusahaan melalui investasi, tapi juga masih berpotensi rugi.

Contoh opportunity cost adalah ketika kamu berencana membuka cabang kantor baru dan harus membeli properti. Pembelian properti tersebut memiliki nilai investasi, karena kamu bisa menjual aset tersebut pada masa mendatang.

Namun, risiko kerugian tetap ada. Misalnya, ketika harga jual properti lebih rendah daripada harga beli, atau ternyata cabang kantor baru tidak mampu mencapai target.

2. Biaya hangus (sunk cost)

Sunk cost merupakan biaya pengeluaran yang tidak bisa dipulihkan. Jadi, apa pun yang terjadi, biaya tersebut akan tetap hangus.

Salah satu contohnya adalah ketika perusahaan berinvestasi pada suatu bisnis dan bisnis tersebut kemudian bangkrut. Akibatnya, uang investasi tidak bisa kembali.

⁠⁠Klasifikasi Biaya Berdasarkan Kegiatan Operasional

1. Biaya produksi

Sesuai namanya, biaya produksi adalah seluruh biaya pengeluaran yang digunakan perusahaan untuk memproduksi barang atau jasa. Contohnya seperti biaya untuk bahan baku, pengemasan, tenaga kerja, dan operasional pabrik.

Mengingat banyaknya kebutuhan untuk produksi, biaya produksi pun biasanya menjadi salah satu jenis biaya dengan pengeluaran terbesar.

2. Biaya tenaga kerja langsung

Aktivitas produksi tidak akan bisa berjalan tanpa adanya tenaga kerja. Itulah kenapa ada biaya tenaga kerja langsung.

Jenis biaya ini digunakan untuk membayar para tenaga kerja yang terlibat langsung dengan produksi barang atau jasa. Salah satu contohnya adalah petugas produksi di pabrik.

Sementara itu, sistem pembayarannya bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, bisa berdasarkan jumlah satuan hasil produksi atau secara tetap setiap bulan.

3. Biaya tenaga kerja tidak langsung

Di samping tenaga kerja langsung, ada pula tenaga kerja tidak langsung. Mereka tidak berhubungan langsung dengan proses produksi, tapi tetap memiliki peran penting. Contohnya seperti karyawan di bagian HR, pemasaran, dan keamanan.

Nah, biaya yang dipakai untuk kebutuhan tersebut disebut biaya tenaga kerja tidak langsung. Pada umumnya, perusahaan membayar biaya tersebut secara tetap setiap bulan, bukan mengikuti satuan hasil produksi.

4. Biaya penyusutan

Biaya penyusutan juga termasuk salah satu jenis-jenis biaya berdasarkan operasional. Biaya penyusutan adalah biaya yang nilainya terus menurun seiring berjalannya waktu.

Penurunan biaya tersebut bisa terjadi karena menurunnya kualitas atau manfaat dari suatu aset. Contohnya adalah biaya untuk mesin pabrik atau komputer. Aset tersebut akan menurun kinerjanya seiring semakin lama durasi pemakaiannya. Alhasil, harga jualnya pun lebih rendah daripada harga beli.

5. Biaya perawatan

Demi menunjang aktivitas produksi, perusahaan perlu menjaga kondisi aset tertentu. Misalnya untuk mesin-mesin produksi, perlu adanya perawatan berkala agar performanya tetap bagus.

Beberapa aset atau aktiva lain yang biasanya juga butuh perawatan adalah mobil kantor, AC, komputer, dan mesin fotokopi. Nah, biaya yang dikeluarkan untuk merawat hal-hal tersebut disebut biaya perawatan.

6. Biaya investasi

Biaya investasi juga termasuk klasifikasi biaya berdasarkan operasional, lho. Pada umumnya, perusahaan mengeluarkan biaya investasi untuk meningkatkan pemasukan kas dalam periode tertentu. Dengan begitu, arus kas bisnis pun tetap lancar.

Salah satu contoh biaya investasi adalah ketika perusahaan menginvestasikan sejumlah modal untuk membeli aset atau instrumen investasi.

7. Biaya overhead pabrik

Jika kamu bekerja di perusahaan yang memproduksi barang, ada kemungkinan kamu akan bertemu dengan biaya overhead pabrik. Jenis biaya satu ini merujuk pada pengeluaran di luar biaya-biaya produktif untuk operasional.

Namun, pengeluaran tersebut masih penting untuk keberlangsungan operasional perusahaan. Mayoritas biaya overhead pabrik biasanya merupakan biaya tambahan atau tidak direncanakan. Contohnya seperti biaya untuk ganti rugi atau denda.

Nah, setelah mengetahui berbagai jenis biaya tersebut, dapat dikatakan bahwa cost berbeda dari beban (expense). Agar tidak bingung, yuk, cari tahu perbedaan cost dan expense pada poin di bawah ini!

⁠Perbedaan Biaya (Cost) dan Beban (Expense)

Meskipun sama-sama merupakan bentuk pengeluaran, cost dan expense adalah dua hal yang berbeda. 

Berikut perbedaan antara cost dan expense yang perlu kamu pahami:

  • Tujuan pengeluaran: Cost dikeluarkan untuk mendukung proses produksi atau memperoleh aset yang nantinya dapat menghasilkan keuntungan. Sementara itu, expense digunakan untuk menunjang kegiatan operasional sehari-hari perusahaan.
  • Manfaat ekonomiCost masih memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang sehingga dapat dicatat sebagai aset. Sebaliknya, expense manfaatnya langsung habis digunakan dalam satu periode akuntansi dan dicatat sebagai beban.
  • Pencatatan dalam akuntansi: Dalam laporan keuangan, cost bisa berubah menjadi aset atau persediaan sebelum akhirnya menjadi beban. Sedangkan expense langsung dicatat sebagai pengurang pendapatan pada periode berjalan.

Contoh cost adalah biaya bahan baku, pembelian mesin produksi, atau biaya tenaga kerja produksi. Adapun contoh expense meliputi biaya listrik kantor, biaya pemasaran, hingga biaya administrasi.

Dengan memahami perbedaan cost dan expense, perusahaan dapat melakukan pencatatan keuangan dengan lebih akurat dan mengambil keputusan bisnis secara lebih tepat.

Tips Mengelola Cost Secara Efektif

Setelah memahami definisi hingga klasifikasinya, langkah penting selanjutnya bagi seorang pebisnis atau staf keuangan adalah memastikan cost terkelola dengan baik. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu terapkan:

  • Pastikan setiap pengeluaran bahan baku hingga tenaga kerja tercatat dengan rinci. Catatan yang rapi akan sangat membantumu saat menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).
  • Lakukan evaluasi berkala. Selalu bandingkan realisasi pengeluaran dengan anggaran awal (budgeting) yang sudah direncanakan. Hal ini penting untuk melacak jika terjadi pemborosan pada variable cost.
  • Hindari pencatatan manual yang rentan human error. Gunakan software akuntansi berbasis cloud agar kamu bisa melacak pergerakan cost secara real-time dan lebih presisi.

Dengan pengelolaan cost yang tepat, perusahaan dapat menjaga kesehatan finansial sekaligus mengambil keputusan bisnis dengan lebih efektif. 

Karena itu, pemahaman mengenai cost menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki, terutama bagi kamu yang ingin berkarier di bidang bisnis dan keuangan.

⁠Kesimpulan

Cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk kebutuhan produksi barang atau jasa. Berbagai faktor yang memengaruhi besaran biaya di antaranya adalah volume aktivitas produksi, harga bahan baku, teknologi dan efisiensi produksi, peraturan pemerintah, serta pajak.

Catatan mengenai cost dalam laporan keuangan memberi informasi yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan harga jual produk hingga efisiensi operasional perusahaan.

Oleh karena itu, supaya catatan cost tersaji dengan jelas, kamu harus paham dengan masing-masing jenis dan klasifikasi biaya seperti yang sudah disebutkan di atas.

Jadi, bagi kamu yang berencana kerja di bidang keuangan atau akuntansi, pastikan untuk mendalami pemahaman tentang cost, ya. Dengan memahami cost, perusahaan dapat lebih mudah melakukan perencanaan dan pengendalian keuangan bisnis.

Yuk, persiapkan diri kamu untuk menembus pekerjaan impian dengan membaca berbagai informasi dan Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK. Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dan terhubung dengan pakar industri di seekMAX dalam aplikasi Jobstreet.

Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dari banyak pakar industri di KarirKu dalam aplikasi Jobstreet. Butuh teman diskusi soal karier untuk memperluas networking? Gabung Komunitas Jobstreet, sekarang!

Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja yang tepat.

Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam satu genggaman saja! Semoga berhasil!

⁠Pertanyaan Seputar Cost

  1. Bagaimana cara menghitung cost (biaya)?
    ⁠Untuk menghitung cost atau biaya di perusahaan, kamu bisa menggunakan rumus berikut ini:

    ⁠Biaya produksi = Biaya bahan baku + Biaya overhead pabrik + Biaya tenaga kerja langsung + Biaya tenaga kerja tidak langsung
  2. Bagaimana cara memilih klasifikasi cost (biaya) yang tepat untuk bisnis?
    Untuk memilih klasifikasi cost yang tepat bagi bisnis, kamu bisa membedakannya secara rinci melalui identifikasi fungsionalitasnya (apakah untuk produksi pabrik, administrasi kantor, atau pemasaran) serta melihat apakah biaya tersebut berubah-ubah nilainya mengikuti volume produksi bulanan.⁠
  3. Apa manfaat memahami cost (biaya) bagi bisnis?
    ⁠Dengan memahami cost bagi bisnis, kamu bisa mendapatkan berbagai manfaat berikut:
    ⁠- Menjaga kelancaran proses produksi
    ⁠- Mempermudah penghitungan HPP
    ⁠- Memiliki informasi akurat untuk mengambil keputusan keuangan
    ⁠- Cost bisa berfungsi sebagai dasar untuk menentukan margin profit
    ⁠- Cost dapat menjadi pedoman untuk perencanaan dan pengendalian keuangan
  4. Mengapa biaya asuransi pabrik sering digolongkan sebagai Fixed Cost?Karena tagihan atau premi asuransi gedung pabrik tersebut jumlahnya sudah ditetapkan (tetap) setiap tahunnya di dalam kontrak, terlepas dari apakah pabrik tersebut sedang memproduksi 100 barang atau memproduksi 10.000 barang di bulan itu.
  5. Apakah biaya pemasaran masuk ke dalam biaya produksi?Tidak. Biaya pemasaran (seperti memasang iklan di media sosial) masuk ke dalam kategori Biaya Operasional (Operating Expense), karena aktivitas pemasaran terjadi setelah produk selesai diproduksi.
  6. Apa itu Harga Pokok Penjualan (HPP)?HPP adalah akumulasi dari semua cost (biaya langsung) yang dikeluarkan untuk memproduksi barang/jasa yang benar-benar terjual selama satu periode. Jika barangnya sudah diproduksi tetapi belum terjual, nilainya masih dianggap sebagai persediaan aset, belum menjadi HPP.

More from this category: Keterampilan di tempat kerja

Telusuri istilah pencarian teratas

Tahukah Anda bahwa banyak kandidat yang menyiapkan resume dan meneliti suatu industri dengan menjelajahi istilah pencarian teratas?

Berlangganan Panduan Karir

Dapatkan saran karier dari ahli yang dikirimkan ke kotak masuk Anda.
Dengan memberikan informasi pribadi Anda, Anda menyetujui Pemberitahuan Pengumpulan dan Kebijakan Privasi. Jika Anda berusia di bawah 21 tahun, Anda memiliki izin dari orang tua agar Jobstreet dan afiliasinya memproses data pribadi Anda. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja.