Cover letter adalah surat perkenalan diri untuk calon pemberi kerja, dan sering kali menjadi penentu kesan pertama. Dalam surat ini, kandidat perlu menjelaskan secara singkat siapa dirinya dan alasan mengapa ia sesuai dengan posisi yang dilamar
Tidak semua cover letter menarik perhatian rekruter, beberapa bahkan diabaikan jika ditulis secara berantakan atau terlalu umum. Karena itu, menggunakan bahasa yang tepat dan efektif bisa membuat sebuah cover letter terlihat lebih menonjol.
Salah satu hal yang sebaiknya dihindari adalah penggunaan kata-kata klise tanpa penjelasan. Prinsip utamanya sederhana: gunakan kata kerja yang menunjukkan inisiatif dan menggambarkan pengalaman nyata.
Berikut 8 kata dan istilah yang sudah saatnya tidak digunakan lagi dalam cover letter, dan alternatif yang bisa dipertimbangkan.
Sapaan pembuka ini mungkin populer di masa lalu, tetapi untuk konteks dunia kerja modern, sapaan tersebut sudah dianggap ketinggalan zaman dan terasa terlalu umum karena tidak menyebut penerima secara langsung, ujar Lucia Mulati, HR Expert dan Career Coach di Merlo Indonesia.
“Jika nama atau penerima surat tidak diketahui, cukup gunakan jabatannya, seperti Yth. Manajer SDM atau Yth. Panel Rekrutmen, terutama jika cover letter akan ditinjau oleh lebih dari satu divisi,” jelasnya.
“Selain itu, gunakan ‘Kepada Yang Terhormat’ sebagai sapaan pembuka. Hindari pilihan yang terlalu kasual seperti ‘Hai’ atau ‘Halo’.”
Beberapa istilah sudah begitu sering dipakai sampai akhirnya kehilangan maknanya, dan ‘proaktif’ termasuk salah satunya, ujar Lucia.
“Kata ‘proaktif’ terdengar klise dan digunakan terus-menerus tanpa penjelasan tambahan. Yang lebih kuat adalah memberikan contoh nyata tentang saat kandidat mengambil inisiatif dan membawa dampak positif bagi tim atau perusahaan,” jelasnya.
Menurut Lucia, istilah klise tidak memiliki bobot karena tidak menjelaskan kualitas atau pencapaian seseorang secara konkret. “Fokus saja pada dua hal: apa yang sudah dilakukan dan apa hasilnya,” katanya.
Cover letter adalah kesempatan untuk menunjukkan kekuatan diri. Karena itu, gunakan pilihan kata yang lebih tegas dan percaya diri ketika menjelaskan keterampilan serta pengalaman yang relevan.
“Penggunaan frasa ‘saya merasa’ atau ‘saya percaya’ masih sering muncul di banyak cover letter yang saya temui. Kata-kata ini sebaiknya dihindari, karena pernyataan seperti ini lebih menggambarkan perasaan pribadi yang tidak selalu relevan dengan pekerjaan yang dilamar,” ujarnya.
Menurutnya, kalimat seperti ‘Saya percaya bahwa saya adalah komunikator yang baik’ bisa terdengar sebagai penilaian diri semata. “Kandidat perlu menggunakan pernyataan yang lebih kuat dan didukung contoh nyata,” jelasnya.
Misalnya, ‘Saya melampaui target penjualan sebesar 30 persen’, ‘Saya mengelola kampanye digital yang meningkatkan pengikut baru di akun media sosial perusahaan hingga 40 persen’, atau ‘Saya berhasil mendapatkan dua klien baru’.
Kata ‘dinamis’ termasuk istilah yang sering dipakai. “Kata ini termasuk dalam kelompok kata klise yang tidak menjelaskan kontribusi nyata terhadap pekerjaan atau perusahaan,” ujar Lucia.
Menurut Lucia, cara yang lebih tepat adalah menunjukkan contoh kemampuan beradaptasi dengan perubahan. “Kemampuan beradaptasi itu penting. Kandidat bisa menuliskan, misalnya, bagaimana mereka menyesuaikan diri saat terjadi perampingan organisasi sambil tetap mengejar target penjualan, atau bagaimana mereka tetap bekerja efektif meski ada pergantian atasan di tengah jalan. Intinya, gunakan contoh konkret.”
Lucia juga menyarankan untuk mengganti kata-kata klise dengan kata kunci yang relevan dari iklan lowongan, terutama karena banyak perusahaan menggunakan Applicant Tracking System (ATS) untuk menyeleksi cover letter dan CV.
“Baca iklan lowongan dengan saksama, perhatikan keterampilan dan istilah yang ditekankan, lalu masukkan ke dalam cover letter dengan penjelasan yang sesuai dengan pengalaman pribadi.”
Semua karyawan diasumsikan dapat diandalkan ketika bekerja. Karena itu, buang saja istilah ‘dapat diandalkan’ dalam cover letter.
Lucia menyarankan untuk mengganti istilah seperti ‘dapat diandalkan’, ‘dapat dipercaya’, atau ‘loyal’ dengan skill yang lebih relevan dengan posisi yang dilamar.
“Jika iklan lowongan menyebutkan bahwa posisi tersebut akan bekerja dalam tim, sertakan contoh pengalaman kerja kolaboratif, pengalaman ketika mengelola kerja sama, serta hasil yang dicapai,” ujarnya.
Mencantumkan ekspektasi gaji dalam cover letter bisa membatasi ruang negosiasi di tahap berikutnya.
“Jangan menuliskan ekspektasi gaji di cover letter, karena bisa saja angka yang diajukan tidak sesuai dengan anggaran perusahaan,” ujar Lucia. “Selain itu, hindari pernyataan seperti ‘gaji bisa dinegosiasikan’, karena ini dapat memberi kesan bahwa kandidat tidak yakin dengan value dirinya. Pembahasan soal gaji lebih tepat dilakukan saat wawancara.”
Semua pekerjaan mengharuskan kita bekerja dengan orang lain. Karena itu, menyebut people person dalam cover letter tidak memberikan informasi tambahan yang berarti.
Jika kerja tim merupakan bagian penting dari posisi yang dilamar, Lucia menyarankan untuk mencantumkan pengalaman kerja sama dalam tim untuk mencapai hasil tertentu.
“Misalnya, ‘Saya menginisiasi rapat mingguan tim untuk meningkatkan kolaborasi’, lalu jelaskan dampaknya,” ujarnya.
Kepercayaan diri itu penting, tetapi hindari penggunaan kata yang berlebihan, seperti ‘Saya adalah manajer yang luar biasa’ atau ‘Saya mencapai target penjualan yang fantastis’. Pernyataan seperti ini justru bisa memberi kesan arogan.
“Biarkan hasilnya yang berbicara,” ujar Lucia. “Misalnya, kandidat bisa menjelaskan bahwa mereka berhasil menghasilkan penjualan senilai hingga Rp8 miliar, atau meningkatkan angka penjualan sebesar 30 persen saat menjadi manajer penjualan. Angka-angka seperti ini membantu rekruter menilai kemampuan kandidat secara jelas, dibandingkan dengan kata ‘luar biasa’ atau ‘fantastis’ yang tidak bisa diukur.”
Cover letter adalah kesempatan untuk menonjolkan diri. Mulai sekarang, coba ganti kata-kata klise dengan hasil kerja yang menunjukkan skill dan pengalaman.
Dengan cara ini, pemberi kerja dapat melihat dan menilai kecocokan kandidat dengan posisi yang mereka butuhkan.