Persiapan wawancara tidak hanya soal apa yang harus dikatakan, tetapi juga apa yang sebaiknya tidak diucapkan. Banyak kata dan pernyataan yang terdengar positif, tetapi sebenarnya bisa melemahkan persepsi pewawancara terhadap kandidat. Beberapa ungkapan juga sudah begitu sering digunakan dan didengar oleh pewawancara dari ribuan kandidat lain.
Berikut kata-kata dan pernyataan yang perlu dihindari, serta apa yang bisa disampaikan sebagai gantinya.
Banyak kandidat yang merasa canggung ketika harus membicarakan pencapaian mereka. “Hal ini dialami oleh banyak orang di semua level. Banyak yang takut terdengar sombong, sehingga mereka cenderung menghaluskan pernyataannya. Padahal, hal ini justru bisa membuat mereka terlihat kurang menonjol di mata rekruter,” kata HR Expert dan Career Coach Lucia Mulati.
Namun, wawancara bukan saatnya mengecilkan diri. “Kandidat sebaiknya menggunakan bahasa yang positif dan benar-benar mencerminkan kekuatan mereka,” tambahnya.
Berikut kata-kata yang sebaiknya dihindari karena bisa mengecilkan pencapaian diri.
Kami
Saat menceritakan cara menyelesaikan sebuah tantangan di tempat kerja, sering kali kita mengatakan ‘kami melakukan ini’ bukan ‘saya melakukan ini’. Wajar saja, karena dalam keseharian, kita terbiasa menekankan kerja tim. Tapi dalam wawancara, pewawancara perlu tahu apa yang benar-benar kandidat kerjakan.
“Kandidat perlu membiasakan diri menggunakan ‘saya’ daripada ‘kami’, supaya pewawancara dapat melihat kontribusi pribadi yang diberikan,” kata Lucia. Cara paling mudah untuk melatihnya adalah mencoba simulasi wawancara dengan teman.
Hanya
Penggunaan kata ‘hanya’ seakan mengecilkan kontribusi kita, menurut Lucia Mulati. Misalnya, ‘Saya hanya membantu proyek itu’ atau ‘Saya hanya bisa Excel tingkat menengah’. Jujur tentang kemampuan memang penting, tapi kata ‘hanya’ akan membuat kandidat terdengar kurang percaya diri.
Coba biasakan menceritakan kemampuan dan pencapaian tanpa kata ‘hanya’. Sampaikan saja apa yang sudah dilakukan dan keinginan untuk meningkatkannya ke depan.
Tidak tahu
Lucia mengatakan bahwa ia sering mendengar jawaban ‘tidak tahu’ dari kandidat dalam wawancara kerja.
“Hindari menjawab ‘saya tidak tahu’ tanpa penjelasan. Jika belum memiliki pengetahuan atau pengalaman terkait, sampaikan secara jujur tanpa perlu berbohong, lalu jelaskan pengalaman lain yang paling relevan dengan yang ditanyakan,” katanya.
Ketika mengikuti wawancara, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, banyak orang yang cenderung bergumam atau mengucapkan kata-kata pengisi atau filler words saat sedang berpikir. Ucapan yang sering muncul biasanya “emm…”, “eh…”, “anu…”, atau “apa ya…”. Kebiasaan ini wajar dalam percakapan sehari-hari, tetapi ketika diucapkan berulang kali dalam wawancara, hal ini bisa memberi kesan ragu-ragu atau kurang percaya diri.
Kata-kata pengisi sering kali kita ucapkan tanpa sadar. Namun, kita bisa berlatih untuk menguranginya. Cobalah menjawab pertanyaan sambil merekam diri sendiri untuk melihat ucapan atau gumaman apa yang sering diulang. Setelah mengenali polanya, gantilah dengan jeda singkat. Diam beberapa detik jauh lebih baik daripada terus mengisinya dengan “emm…” atau “eh…”.
Menurut Lucia, ada beberapa istilah yang begitu sering muncul dalam wawancara sampai-sampai tidak lagi memberi kesan apa pun bagi pewawancara, ‘perfeksionis’ salah satunya.
Banyak orang menyebut dirinya ‘perfeksionis’ sebagai strategi untuk membuat kelemahan terdengar positif. Namun, jawaban ini sudah terlalu sering didengar. Selain itu, perfeksionisme memberi kesan bahwa kandidat menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu pekerjaan. Padahal ketika tugas sedang banyak, kemampuan mengelola waktu dengan efisien justru lebih penting.
Lucia menyarankan agar kandidat menghindari ungkapan ini sama sekali atau menjelaskannya dengan cara yang lebih spesifik. “Kandidat bisa menyampaikan bahwa mereka punya standar kerja yang tinggi, namun juga sadar kapan saatnya berhenti dan menyelesaikan sebuah tugas agar bisa beralih ke tugas lainnya,” ujarnya.
Sebelum wawancara, siapkan contoh-contoh kasus untuk menjelaskan kekuatan dan skill yang dimiliki. Berikut ini beberapa contoh ungkapan yang hanya bermakna jika didukung bukti dan contoh nyata.
Tangguh/termotivasi oleh tantangan
Tantangan apa yang berhasil diatasi? “Jelaskan tantangan tersebut, kesulitannya, dan apa yang kemudian dilakukan untuk mengatasinya,” ujar Lucia. Untuk menggambarkan ketangguhan, siapkan jawaban dan contoh konkret tentang cara mempersiapkan diri menghadapi tantangan, keterampilan baru yang perlu dikembangkan, pihak yang biasa dimintai bantuan, serta upaya menjaga sikap positif dan fokus pada tujuan.
Teliti
Untuk menunjukkan ketelitian, pastikan tidak ada kesalahan tanda baca atau tata bahasa dalam cover letter. Untuk mendukung pernyataan ini, siapkan contoh saat ketelitian digunakan untuk mengidentifikasi kesalahan yang berpotensi berdampak besar bagi perusahaan.
Bisa bekerja dalam tim
“Hampir semua kandidat mengatakan bahwa mereka bisa bekerja dalam tim. Namun, yang perlu ditekankan adalah kontribusi yang telah dilakukan untuk tim,” ujar Lucia. Contohnya, sampaikan pengalaman saat berbagi informasi dengan tim, meminta masukan, atau mendukung dan menyemangati rekan kerja, serta hasil yang dicapai bersama tim.
Lucia menyarankan agar kandidat menggunakan kalimat yang bernada positif dan menunjukkan aksi nyata dalam wawancara, seperti:
Formula di atas juga akan berguna ketika pewawancara memberikan contoh studi kasus untuk menilai kemampuan analisis dan penyelesaian masalah. “Studi kasus digunakan untuk melihat bagaimana kandidat menunjukkan proses pengambilan keputusan, cara melihat masalah, dan menawarkan solusi,” ujar Lucia.
Ia mencontohkan situasi ketika seorang kandidat diminta menjelaskan keputusan yang harus diambil saat harus turun ke lapangan, sementara pada hari yang sama ada permintaan laporan. “Dalam kondisi dua hal yang menuntut perhatian secara bersamaan, kita bisa melihat cara mereka mengidentifikasi sebuah situasi, mencari alternatif, atau bahkan sumber daya tambahan,” jelasnya.
Dalam proses ini, yang ingin dilihat adalah kejelasan berpikir yang mendorong kandidat mengambil aksi nyata. “Misalnya, kandidat dapat menjelaskan bahwa di tengah deadline, kunjungan ke lapangan dapat didelegasikan atau ditunda, sementara laporan harus segera diselesaikan karena merupakan bagian dari pertanggungjawaban. Pada akhirnya, apa pun keputusan yang diambil, pewawancara ingin melihat kandidat yang memiliki cara berpikir independen untuk mengambil keputusan sulit.”
Lolos ke tahap wawancara adalah langkah penting. Agar lebih siap, jangan lupa berlatih dan mengikuti saran-saran di atas: gunakan pernyataan positif untuk menonjolkan skill, siapkan contoh-contoh pendukung, dan tekankan hasil serta pencapaian kerja. Dengan persiapan yang baik, wawancara bisa dihadapi dengan percaya diri.