Menulis CV yang baik ada seninya, terutama ketika kita ingin menggambarkan karakter dan kualitas diri. Banyak kata yang sering muncul dalam CV, dan terlalu sering digunakan seperti ‘pekerja keras’, ‘berdedikasi’, atau ‘cepat belajar’.
Masalahnya bukan pada kata-katanya, tetapi pada cara penggunaannya. Banyak yang menuliskan kata-kata ini tanpa penjelasan atau contoh, sehingga terdengar seperti klaim kosong.
HR Expert sekaligus Career Coach Lucia Mulati dari Merlo Indonesia berbagi wawasan tentang kata-kata yang sebaiknya dihindari dalam CV dan bagaimana menggantinya dengan istilah yang lebih meyakinkan.
Kata-kata klise atau buzzword yang sering muncul dalam CV dan sudah saatnya dibuang antara lain:
“Kata-kata ini terlalu sering ditulis tanpa disertai contoh nyata,” ujar Lucia. “Hampir semua perusahaan mencari karakter seperti ini, dan hampir semua pelamar mengklaim bahwa mereka memilikinya."
Menurut Lucia, yang ingin dilihat perusahaan bukan hanya daftar sifat, tetapi bagaimana sifat itu tampak dalam tindakan. “Untuk benar-benar menunjukkan karakter dan etika kerja, kandidat perlu menjelaskan bagaimana motivasi atau antusiasme yang dimiliki telah membantu menyelesaikan tugas tertentu,” jelasnya.
Dalam proses rekrutmen, perusahaan ingin melihat apa yang sudah dilakukan kandidat, bukan hanya sifat yang mereka klaim. Karena itu, CV akan jauh lebih kuat jika menggunakan kata kerja aktif. “Dengan kata kerja aktif, pembaca bisa langsung melihat tindakan dan hasil yang dicapai kandidat,” jelas Lucia.
Misalnya, daripada hanya menyebut diri sebagai pekerja yang berdedikasi, jelaskan pengalaman ketika menyelesaikan sebuah proyek dari awal hingga akhir dalam kurun waktu tertentu. Jika ingin menonjolkan kemampuan berinteraksi dengan banyak orang, tunjukkan cara membangun kerja sama dengan staf dari berbagai divisi untuk menyelesaikan sebuah tugas.
Contoh kata kerja aktif yang dapat digunakan:
“Kata kerja aktif membantu menunjukkan keterampilan dan hasil kerja secara lebih jelas, sehingga CV lebih mudah dipahami dan menarik bagi rekruter,” ujar Lucia.
Banyak perusahaan kini menggunakan Applicant Tracking System (ATS) untuk menyaring CV. “Dengan ATS, perusahaan akan lebih memprioritaskan CV yang memuat kata kunci sesuai kebutuhan posisi. Karena itu, penggunaan kata yang tepat dalam CV menjadi semakin penting,” ujar Lucia.
Sebelum menulis CV, luangkan waktu untuk membaca ulang iklan lowongan. Perhatikan keterampilan yang dicari, kata kerja yang digunakan, dan istilah yang sering muncul. Setelah itu, gunakan kata-kata tersebut secara relevan dalam CV.
Menurut Lucia, perusahaan lebih tertarik pada kandidat dengan kemampuan yang spesifik, bukan sekadar label seperti ‘antusias’ atau ‘pekerja keras’. “Lebih baik sertakan bukti pendukung, misalnya pencapaian dalam angka atau contoh konkret tentang hasil kerja. Data seperti ini jauh lebih kuat daripada kata-kata klise,” jelasnya.
Pada akhirnya, CV yang baik merangkum perjalanan karier dan kualitas diri yang paling relevan dengan pekerjaan yang dilamar. Pilihan katanya pun harus dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar mencerminkan kemampuanmu.