Jujur saja, relasi kerja dengan atasan tidak selalu mudah. Ada atasan yang inspiratif, yang menantang kita untuk berkembang, tapi ada juga yang menguji kesabaran. Padahal, merasa sefrekuensi dengan atasan bisa berdampak pada semangat, kepuasan, dan kinerja.
Kalau kamu sedang membaca ini, mungkin kamu sedang mencoba memahami dinamika dengan atasanmu, atau mencari yang lebih cocok ke depan. Untuk membantu mengenali atasan yang tepat, career coach Leah Lambart menyarankan lima hal berikut untuk kamu pertimbangkan.
Jangan terburu-buru untuk menilai kalau atasanmu 'buruk' hanya karena kalian tidak sefrekuensi. Menurut Leah Lambart, kita perlu memahami tipe atasan yang bisa membantu kita bekerja dengan optimal, dari sisi keahlian, karakter, dan gaya komunikasi.
“Atasan seperti apa yang Anda butuhkan? Apakah yang suportif, kolaboratif, dan perhatian, yang bisa membimbing, membantu kita berkembang, dan terbuka berkomunikasi?” kata Leah Lambart. “Atau Anda butuh yang tegas, fokus pada hasil, komunikasi-nya to the point, dan memberi ruang untuk bekerja lebih mandiri?”
Setelah memahami apa yang kamu butuhkan dari seorang atasan, barulah kamu bisa mulai mempertimbangkan gaya kepemimpinan dan komunikasi yang tepat.
Proses mencari kerja bisa jadi waktu yang tepat untuk mengenal kembali value atau nilai yang kamu pegang. Saat kamu bekerja dengan rekan atau atasan yang value-nya selaras, kamu akan merasa lebih betah di tempat kerja.
Value bisa muncul dari dorongan dalam diri, misalnya keinginan untuk membantu orang banyak, bekerja dalam tim yang saling mendukung, atau menjalani pekerjaan yang membuat kemampuan kamu berkembang. Tapi value juga bisa datang dari luar diri, misalnya gaji yang tinggi, status jabatan, work-life balance, atau kepastian kerja jangka panjang.
"Value adalah kompas yang menunjukkan arah dalam mencari pekerjaan yang memuaskan,” ujar Leah Lambart. “Ada orang yang bisa mengesampingkan personal value-nya untuk sementara, dan bekerja di perusahaan atau dengan atasan yang nilai-nilainya tidak sejalan. Tapi dalam jangka panjang, hal itu bisa menimbulkan rasa tidak cocok dalam tim, kekecewaan, dan ketidakpuasan.”
Untuk mengecek apakah value kamu sejalan dengan tempat kerja, kamu bisa menanyakan kepada perusahaan contoh nyata tentang bagaimana nilai-nilai yang kamu yakini diterapkan dalam keseharian.
Sebelum melamar, mengikuti wawancara, atau menerima tawaran pekerjaan baru, luangkan waktu untuk memikirkan karakter dari para atasan sebelumnya yang kamu kagumi.
“Coba refleksikan, apa yang membuat atasan sebelumnya cocok dengan cara kerja Anda, dan apakah gaya kepemimpinan serta komunikasinya masih sesuai dengan kebutuhan Anda saat ini,” kata Leah Lambart.
Dalam proses rekrutmen, bisa saja muncul pertanyaan seperti “Anda mencari sosok manajer seperti apa?” Dengan memahami hal ini sejak awal, kamu bisa memberikan jawaban yang lebih matang dan meyakinkan.
Perlu diingat, kalau kamu dan atasan tidak perlu menjadi teman. Tapi, relasi yang nyaman dan saling menghargai bisa sangat memengaruhi kinerjamu. Kalau kamu sedang dalam proses rekrutmen, coba ajukan lima pertanyaan ini kepada calon atasan:
Pertanyaan ini membantu kamu melihat apakah karaktermu sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan.
Perhatikan apakah calon atasan menyebutkan karakter pribadi atau value tertentu yang dianggap penting untuk berhasil di posisi ini.
Tanyakan hal ini untuk menilai apakah calon atasan mampu menjelaskan gaya komunikasinya dan apakah gaya tersebut cocok untukmu. Misalnya, saat memberikan masukan, apakah ia cenderung tegas atau lebih berhati-hati.
Pertanyaan ini membantu kamu memahami cara dan seberapa sering calon atasan memberikan umpan balik. Misalnya, apakah mereka memiliki sesi rutin setiap minggu atau hanya memberikan evaluasi tahunan.
Dengan pertanyaan ini, kamu bisa menilai apakah calon atasan mampu menjelaskan gaya kepemimpinannya dan apakah gaya tersebut cocok dengan cara kerjamu.
Bekerja dengan bos yang tidak satu frekuensi bisa berdampak besar pada kepuasan dan performa kerja. Dengan mengenali value diri dan mengajukan pertanyaan yang tepat sebelum menerima pekerjaan, kamu bisa membangun hubungan kerja yang lebih sehat dengan atasan yang baru.