Menyiapkan diri untuk wawancara kerja membutuhkan keahlian. Namun, apa yang dilakukan setelah wawancara juga sama pentingnya dan membutuhkan keberanian ekstra. Banyak perusahaan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk menentukan kandidat yang akan dipilih. Masa penantian ini bisa membuat siapa pun gelisah.
Sebenarnya, kandidat dapat bersikap lebih proaktif dengan menghubungi rekruter untuk mencari kejelasan, terutama setelah melalui tahap administrasi, tes tertulis, hingga sesi wawancara. HR Expert dan Career Coach Lucia Mulati, yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun dalam merekrut kandidat untuk berbagai organisasi profit dan nirlaba, berbagi langkah untuk menindaklanjuti hasil wawancara dengan tepat.
“Menjelang akhir wawancara, pewawancara biasanya akan menanyakan apakah kandidat memiliki pertanyaan,” jelas Lucia. Kesempatan ini bisa digunakan untuk menggali lebih jauh tentang peran yang dilamar, tim yang akan bekerja sama nantinya, maupun peluang pengembangan karier.
“Momen ini juga tepat untuk menanyakan tahapan selanjutnya setelah wawancara. Pertanyaannya bisa sederhana, seperti kapan perkiraan keputusan akan diberikan dan apakah panelis dapat memberikan masukan untuk kandidat. Hal ini memudahkan kandidat merencanakan langkah berikutnya,” ujarnya.
Sesudah proses wawancara selesai, kandidat dapat mengirim pesan singkat untuk mengucapkan terima kasih. Langkah sederhana ini menunjukkan profesionalisme dan etika komunikasi yang baik.
“Jika wawancara dilakukan langsung oleh hiring manager, kirimkan email terima kasih dan sampaikan kembali ketertarikan pada posisi tersebut,” ujar Lucia. “Tetap perhatikan waktunya dan hindari mengirim terlalu banyak pesan ke rekruter.”
Lucia juga menjelaskan bahwa rekruter biasanya sudah mengumpulkan masukan dari pewawancara lainnya. Karena itu, sampaikan juga keterbukaan untuk menerima masukan yang dapat membantu pengembangan diri.
Proses seleksi bisa berlangsung lebih lama, terutama ketika perusahaan sedang memproses beberapa posisi sekaligus. Dalam situasi seperti ini, keputusan dapat tertunda karena tim rekrutmen harus membagi fokusnya. “Biasanya wajar untuk menanyakan perkembangan setelah 10 sampai 14 hari sejak wawancara, selama pesannya disampaikan dengan sopan dan tidak terkesan mendesak,” kata Lucia.
Email tetap menjadi cara paling tepat untuk menghubungi rekruter, kecuali sejak awal komunikasi sudah dilakukan melalui telepon. Jika hasilnya penolakan, tetaplah merespons dengan mengucapkan terima kasih atas kesempatan wawancara dan sampaikan harapan baik untuk perusahaan agar menemukan kandidat yang paling tepat.
Menjaga nada komunikasi juga sangat penting. “Kandidat perlu bersikap fleksibel jika perusahaan meminta wawancara lanjutan, dokumen tambahan, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan,” jelasnya. “Tetaplah terbuka jika ada perubahan atau permintaan tambahan.”
Sambil menunggu kabar, tetaplah aktif mencari peluang lain. “Sebaik apa pun proses wawancara, jangan menutup kesempatan lain dan terpaku pada satu pilihan saja,” ujar Lucia.
Setiap proses rekrutmen berjalan dengan ritme yang berbeda. Namun jika setelah tiga minggu tidak ada kabar lanjutan sama sekali, saatnya mengalihkan energi untuk kesempatan berikutnya. “Semakin lama jeda komunikasinya, semakin kecil kemungkinan rekruter akan memberikan umpan balik tambahan,” jelasnya.
Apa pun hasilnya, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. “Coba renungkan apa yang membuat posisi itu begitu menarik, lalu gunakan hal itu sebagai panduan untuk mencari peluang serupa,” tambahnya.