Ringkasan
Menerapkan stoicisme bisa membantu mengurangi stres di tempat kerja. Pasalnya, bukan rahasia umum kalau dunia kerja seringkali penuh dengan tantangan dan tekanan.
Tak heran banyak yang mengalami stres dan burnout di tempat kerja. Hal ini bisa mengurangi kebahagiaan dan bahkan mengganggu kesehatan mental. Tentunya kamu tidak ingin hal ini terjadi, kan?
Kabar baiknya, kamu bisa mencoba menerapkan Stoicism atau stoicisme. Filosofi stoicism ini bisa membantumu menemukan ketenangan dan kebahagiaan, baik di kehidupan pribadi maupun di tempat kerja.
Lantas, apa arti stoicism dan bagaimana cara menerapkannya di dunia kerja? Yuk, kita bahas!
Sumber : Pexels
Filosofi stoicism adalah aliran pemikiran dari Yunani Kuno yang mulai diperkenalkan oleh Zeno dari Citium sekitar 300 tahun sebelum Masehi.
Istilah “stoicism” atau “stoikisme” sendiri berasal dari nama tempat Zeno mengajar, yaitu Stoa Poikile atau “Serambi Dicat” di Athena.
Selain Zeno, filsuf lain seperti Cleanthes dan Epictetus juga ikut mengembangkan ajaran ini. Filosofi stoicism kemudian semakin dikenal setelah dianut oleh tokoh Romawi seperti Seneca, Musonius Rufus, hingga Kaisar Marcus Aurelius.
Secara sederhana, stoicism adalah filosofi hidup yang mengajarkan seseorang untuk mencapai ketenangan, kebahagiaan, dan keteguhan mental dalam menghadapi berbagai situasi hidup.
Filosofi ini menekankan pentingnya fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, serta belajar menerima hal-hal di luar kendali dengan lebih tenang dan rasional.
Dalam stoikisme, kebahagiaan sejati tidak bergantung pada faktor eksternal seperti uang, jabatan, atau pendapat orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan berasal dari cara kita berpikir, bersikap, dan merespons keadaan yang terjadi di sekitar kita.
Untuk itulah, stoicism mengajarkan bahwa kita mungkin tidak bisa mengontrol semua kejadian dalam hidup, tetapi kita tetap bisa mengendalikan reaksi, emosi, dan tindakan kita terhadap situasi tersebut.
Pola pikir inilah yang membuat stoikisme sering dianggap relevan untuk menghadapi tekanan hidup modern, termasuk stres dan tantangan di dunia kerja.
Selain mengajarkan ketenangan emosi, stoicism juga menekankan pentingnya menggunakan akal sehat dan berpikir objektif.
Dalam filosofi ini, kegagalan, kritik, maupun kesulitan hidup tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang buruk, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Stoikisme dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menghadapi tekanan dan tantangan di tempat kerja. Inti dari stoikisme adalah fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan dan menerima hal-hal di luar kendali dengan tenang.
Berikut beberapa contoh stoikisme dalam dunia kerja:
Salah satu prinsip utama stoikisme adalah membedakan antara hal yang bisa dan tidak bisa kita kontrol. Misalnya, sikap atasan, rekan kerja toxic, perubahan kebijakan kantor, atau beban kerja yang tiba-tiba meningkat sering kali berada di luar kendali kita.
Daripada terus merasa kesal atau frustrasi, stoikisme mengajarkan untuk memusatkan energi pada hal yang masih bisa dikendalikan, seperti cara bersikap, kualitas pekerjaan, manajemen emosi, dan usaha yang kita lakukan.
Dalam dunia kerja, kesalahan, kritik, atau konflik adalah hal yang wajar terjadi. Stoikisme mengajarkan untuk tidak langsung bereaksi secara emosional ketika menghadapi situasi sulit.
Contohnya, saat menerima kritik dari atasan, seseorang yang menerapkan stoikisme akan mencoba melihat kritik tersebut secara objektif dan menjadikannya bahan evaluasi, bukan langsung merasa diserang secara pribadi.
Stoikisme juga mendorong seseorang untuk lebih fokus mencari solusi daripada terus mengeluhkan keadaan.
Misalnya, ketika proyek mengalami hambatan atau target kerja tidak tercapai, daripada terus menyalahkan keadaan, kamu bisa mulai memikirkan langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki situasi.
Tidak semua rencana karier akan berjalan mulus. Ada kalanya promosi tertunda, pekerjaan ditolak, atau target tidak tercapai. Dalam stoikisme, kondisi seperti ini dipandang sebagai bagian alami dari kehidupan dan proses berkembang.
Dengan menerima kenyataan secara rasional, seseorang dapat lebih mudah bangkit dan tetap melanjutkan usaha tanpa larut dalam kekecewaan.
Stoikisme mengajarkan pentingnya berpikir jernih sebelum bereaksi. Saat menghadapi konflik kerja atau tekanan tinggi, seseorang diharapkan tidak mengambil keputusan secara impulsif karena emosi sesaat.
Sikap ini dapat membantu menjaga profesionalitas sekaligus membuat keputusan yang lebih bijak dan objektif.
Sumber : Pexels
Apa saja sih manfaatnya kalau kita menerapkan stoicism dalam kehidupan sehari-hari? Beberapa manfaat yang bisa kamu peroleh jika menerapkan stoicism adalah sebagai berikut.
Stoicisme mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, yaitu pikiran dan perasaan kita. Hal tersebut membuat self management menjadi lebih baik dan terkendali.
Di saat yang sama, ini berarti kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang ada di luar kendali kita.
Nah, dengan fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol, pikiran kita pun akan menjadi lebih tenang dan kita bisa mengambil tindakan penting dengan kepala dingin.
Stoicisme juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu peduli pada pendapat negatif orang lain tentang kita.
Ingat, kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Alhasil, kita bisa menjadi lebih percaya diri dan lebih berani mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai dan prinsip kita sendiri.
Stoicism juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang sudah kita miliki dan bersyukur atas segala hal dalam hidup.
Kita pun menjadi lebih bisa menikmati momen-momen kecil dan melihat sisi positif dari setiap situasi.
Filosofi stoicism menekankan bahwa kitalah yang memegang kendali atas pikiran dan perasaan kita, bukan sebaliknya.
Artinya, kita bisa belajar untuk mengelola emosi dengan lebih baik, bukan dikendalikan oleh emosi.
Kita bisa belajar untuk tidak terlalu terpengaruh oleh emosi negatif seperti amarah atau kecemasan. Hal ini membantu kita untuk tetap tenang dan berpikir jernih sekalipun dalam situasi sulit.
Filosofi stoicism menekankan bahwa logos atau akal merupakan aspek terpenting untuk menjalani hidup dengan baik.
Akal atau kemampuan berpikir inilah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya.
Dengan menerapkan filosofi stoicism, kita selalu didorong untuk menggunakan akal sehat dan melihat hidup dengan lebih realistis.
Kita pun akan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dan kadang-kadang kita akan mengalami kegagalan atau kesulitan.
Namun, ini kesulitan dalam hidup tidak boleh membuat kita putus asa. Justru, ini bisa menjadi motivasi untuk terus maju dan berkembang.
Sumber : Pexels
Melansir ThoughtCo, ada sejumlah prinsip dasar stoicism yang bisa membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih baik. Apa saja itu?
Beberapa penjelasan tentang prinsip dasar stoicism adalah sebagai berikut:
Stoicism mengajarkan bahwa ada aturan alam yang mengatur segala sesuatu di alam semesta ini.
Kita perlu hidup selaras dengan aturan alam ini dan menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah.
Sebagai contohnya, ketika hujan turun, kita tahu bahwa itu adalah bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan membawa payung.
Saat menggunakan akal pikiran, kita tidak sekadar mengikuti keinginan dan nafsu kita.
Sebaliknya, kita berpikir secara bijak dan mempertimbangkan akibat dari tindakan kita. Hal ini bisa membawa kita ke arah hidup yang lebih baik dan lebih berarti.
Prinsip stoicism adalah tentang pentingnya mengembangkan sifat-sifat baik seperti kebijaksanaan, keberanian, dan keadilan dalam hidup kita.
Dengan memiliki kebajikan, kita bisa mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan yang sejati.
Baca Juga: Cara Negosiasi Gaji yang Tepat
Bersikap bijaksana artinya membuat keputusan yang baik berdasarkan pengalaman dan pemikiran yang matang.
Sebagai contoh, sebelum membeli barang mahal, kita menunggu beberapa saat dan mempertimbangkan dengan matang untuk memastikan bahwa itu adalah keputusan yang tepat.
Filosofi stoicism mengajarkan kita untuk mencapai ketenangan emosi dan keteguhan batin.
Ini bukan berarti kita tidak merasakan emosi, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa mengendalikan emosi negatif.
Jangan sampai kita dikendalikan oleh emosi hingga mengambil tindakan yang tidak masuk akal.
Menikmati hal-hal baik dalam hidup boleh saja, tetapi kita harus ingat untuk tidak berlebihan.
Sebagai contoh, makan kue enak memang menyenangkan, tetapi makan kue terlalu banyak bisa mendatangkan penyakit di kemudian hari.
Teori stoikisme mengatakan bahwa kehidupan punya tantangan dan kesulitan, tetapi itu bukan berarti bahwa hidup ini jahat.
Misalnya, ketika kita baru belajar naik sepeda, kita akan jatuh dan merasakan sakit. Namun, rasa sakit ini hanyalah bagian dari belajar cara mengendarai sepeda.
Filosofi stoicism juga mengajarkan kita untuk melakukan tindakan baik dan sesuai moral.
Bukan karena mengharapkan penghargaan atau pujian dari orang lain, tetapi karena itu adalah hal yang benar dan sepatutnya dilakukan.
Salah satu kesalahpahaman paling umum tentang filosofi stoicism adalah menganggapnya sama dengan sikap pasif, menyerah, atau sekadar “bodo amat” terhadap situasi di tempat kerja.
Padahal, keduanya sangat berbeda. Agar tidak salah menerapkannya, berikut perbedaan mendasar antara stoicism dan sikap “bodo amat” di dunia kerja:
Orang yang bersikap “bodo amat” biasanya memilih diam dan membiarkan keadaan berjalan tanpa usaha memperbaiki diri.
Sebaliknya, seseorang yang menerapkan stoicism akan menerima perubahan secara logis, lalu mencari cara terbaik untuk beradaptasi.
Contohnya, ketika perkembangan Artificial Intelligence mulai mengubah banyak jenis pekerjaan, seorang Stoic tidak akan sibuk mengeluh atau merasa terancam.
Ia akan fokus pada hal yang bisa dikendalikan, misalnya meningkatkan skill baru, mempelajari tools AI, atau mencari cara agar tetap relevan di dunia kerja.
Sikap “bodo amat” sering kali terlihat tenang di permukaan, tetapi sebenarnya hanya bentuk menghindari emosi atau memendam frustrasi.
Stoicism justru mengajarkan kita untuk mengenali emosi, memahaminya, lalu merespons secara sadar.
Contohnya, saat menerima kritik dari atasan, orang yang apatis mungkin memilih diam sambil memendam kesal. Sebaliknya, seorang Stoic akan mengevaluasi kritik tersebut secara objektif dan mengambil pelajaran yang berguna.
Orang yang tidak peduli cenderung mengabaikan tugas saat menghadapi situasi sulit.
Sebaliknya, seorang Stoic tetap menjalankan tanggung jawab dengan baik, meskipun situasinya tidak ideal.
Misalnya, saat menghadapi klien yang sulit atau rekan kerja yang toxic, seseorang yang menerapkan stoicism akan tetap menjaga profesionalitas dan kualitas kerja, tanpa membiarkan emosi orang lain mengganggu performanya.
Sumber : Pexels
Filosofi stoicism mengajarkan ketenangan dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai situasi hidup. Ajaran ini bisa sangat berguna dalam dunia kerja yang penuh tekanan.
Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan teori stoikisme ini dalam lingkungan kerja sehari-hari? Yuk, simak beberapa tips berikut:
Dalam dunia kerja, kadang-kadang kita membuat masalah atau tugas menjadi lebih sulit dari yang seharusnya.
Sebagai contoh, saat menggarap proyek besar di kantor, kamu membuat rencana yang rumit dengan memikirkan segala kemungkinan masalah.
Alih-alih mempersulit diri dengan memikirkan hal-hal yang ada di luar kendali, fokuslah pada upaya-upaya yang bisa kamu lakukan.
Gunakan energi kamu untuk memikirkan langkah-langkah yang paling efektif untuk menyelesaikan tugas dengan baik.
Di tempat kerja, kita harus memiliki keyakinan diri dan kepercayaan pada diri sendiri.
Jangan biarkan pendapat orang lain menghalangi kita untuk mencapai tujuan atau melakukan hal yang kita yakini benar.
Ingat, fokuskan energimu pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Adapun pendapat atau penilaian orang lain adalah hal yang tidak bisa kamu kendalikan.
Filosofi stoicism mengajarkan pentingnya memiliki mindset yang benar dalam menghadapi tantangan.
Di dunia kerja, kita perlu mengadopsi sikap positif dan growth mindset. Lihat setiap masalah sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, bukan sebagai hambatan yang tidak bisa diatasi. Daripada mengeluh, cobalah mencari solusi terbaik.
Kadang-kadang, kita cenderung memperumit segala sesuatu dengan berbagai detail dan perencanaan yang berlebihan.
Filosofi stoicism mengajarkan bahwa kita perlu belajar untuk menyederhanakan berbagai hal, baik itu tugas atau keputusan, sehingga kita bisa lebih fokus dan efisien dalam mencapai tujuan.
Tidak jarang kita melakukan sesuatu hanya karena sudah menjadi kebiasaan, bukan karena kita benar-benar yakin atau ingin melakukannya.
Filosofi stoicism mengajarkan kita untuk selalu menggunakan akal dan bertanya pada diri sendiri. Apakah tindakan atau keputusan yang kita ambil benar-benar sesuai dengan nilai dan tujuan kita?
Mulai sekarang, lakukan evaluasi terhadap rutinitas kerjamu secara berkala. Jika ada kebiasaan yang tidak lagi efektif, jangan ragu untuk mengubahnya atau meninggalkannya.
Penting untuk diingat bahwa karir bukanlah hukuman seumur hidup.
Sebaliknya, berkarya di tempat kerja adalah cara kita untuk menjadi lebih bermanfaat dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Tak lupa, karir hanyalah bagian dari hidup kita, bukan segalanya.
Filosofi stoicism mengajarkan kita untuk tidak terlalu terpaku pada kesuksesan atau kegagalan dalam karir. Sebaliknya, selalu prioritaskan keseimbangan hidup dan personal wellbeing.
Salah satu aspek penting dari Stoicism adalah menjaga ketenangan pikiran dalam menghadapi segala situasi.
Di lingkungan kerja yang penuh tekanan, penting bagi kita untuk belajar bagaimana mengendalikan emosi dan tetap tenang, bahkan dalam situasi yang sulit atau stres.
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, kita dapat menjadi lebih efisien, tenang, dan bahagia dalam menjalani kehidupan profesional kita.
Kalau kamu ingin mulai menerapkan stoicism dalam kehidupan profesional, coba biasakan hal-hal berikut:
Pada akhirnya, stoicism bukan berarti menjadi pribadi yang dingin, pasif, atau tidak peduli terhadap keadaan sekitar.
Sebaliknya, filosofi ini mengajarkan kita untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan bertindak bijak saat menghadapi tekanan kerja. Sudah siapkah menerapkannya di tempat kerjamu sekarang?
Sumber : Pexels
Stoicism atau Stoic adalah filosofi yang mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol dalam hidup.
Menurut filosofi stoicism, rahasia untuk merasa tenang dan bahagia adalah dengan memikirkan hal-hal yang kita bisa kendalikan, sementara menerima dengan lapang dada hal-hal yang tidak bisa kita ubah.
Dengan mengikuti prinsip-prinsip filosofi stoicism ini, kamu bisa menumbuhkan kebijaksanaan, ketenangan pikiran, dan keteguhan mental dalam menghadapi segala situasi, termasuk di tempat kerja.
Jadi, untuk menghadapi tantangan apa pun yang kamu hadapi di tempat kerja, cobalah terapkan filosofi stoicism mulai sekarang.
Jangan lupa juga untuk selalu mengembangkan diri dengan wawasan bermanfaat. Pantau terus laman Tips Karier di situs Jobstreet by SEEK.
Kamu juga bisa mengakses ribuan konten pembelajaran gratis dari banyak pakar industri di KarirKu dalam aplikasi Jobstreet. Butuh teman diskusi soal karier untuk memperluas networking? Gabung Komunitas Jobstreet, sekarang!
Setelah itu, jangan lupa perbarui profil Jobstreet kamu dan temukan lowongan kerja yang tepat.
Download aplikasi Jobstreet by SEEK di Play Store atau App Store dan nikmati kemudahan untuk mengakses informasi terbaru seputar dunia kerja hanya dalam satu genggaman saja! Semoga berhasil!