Ada kesempatan yang lebih baik diluar sanaThe good thingsWork life balance yang relatif baik, dimana jam kerja relatif teratur
Bonus keluar dalam basis quarter - tetapi ada kemungkinan sekarang sudah diganti
Relatif mudah untuk pengajuan cuti dan jarang untuk diganggu diluar jam kerja - kecuali anda memiliki atasan yang workaholic
Kesempatan untuk belajar banyak hal - anda memiliki kesempatan untuk handle banyak komoditi potensial. Dengan menumpang nama besar POSCO, ini dapat menjadi batu loncatan yang sangat baik untuk karir anda kedepannya jika ingin aktif di industri yang sama.
The challengesAdaptasi terhadap teknologi - perusahaan sangat lambat dan gagap dalam menyikapi pandemi. Laptop kantor yang digunakan adalah sampah elektronik yang tidak layak untuk dipakai bekerja.
Spesifikasi laptop tidak mampu untuk menggunakan Windows 10, tetapi dipaksakan. Pengadaan laptop didasarkan bukan pada kemampuan laptop untuk digunakan bekerja secara efektif, tapi pada tampilan yang keren.
Sangat lambat dalam berinvestasi untuk Zoom berbayar, sistem absensi dan kontrol online yang terintegrasi untuk menunjang aktivitas Work From Home.
Kolot - Sebagai perusahaan Korea ada budaya dan fetish bahwa karyawan HARUS stay di kantor sampai jam 5 sore. Tidak cocok bagi orang yang memiliki kecenderungan untuk mendukung meritocracy. Budaya asal bapak senang sangat kental.
Perusahaan sangat memandang bahwa Work From Home adalah kesempatan karyawan untuk bermalas-malas, kendati sebagian besar inefektivitas Work From Home dikarenakan laptop kantor yang sangat usang dan minimya sistem kontrol yang efektif dan terkontrol untuk atasan dan bawahan.
Kemajuan karir - Tidak ada kejelasan untuk kemajuan. Peningkatan pangkat tidak disertai dengan peningkatan tanggung jawab yang nyata. Terlalu banyak layer. Dan ditakdirkan untuk selalu jadi bawahan expat.
Anda bisa memegang bisnis dan sewaktu-waktu bisa dicaplok oleh manager Korea yang haus pencapaian.
Protokol Kesehatan - Sebagian besar expat sangat tidak menghargai protokol kesehatan. Hampir dipastikan masker dipakai hanya sebagai dekorasi di dagu.
Kebijakan terkait prokes hanya sebagai prasyarat semata agar terlihat peduli dengan Keselamatan dan Keamanan Kerja selama pandemi.
Komunikasi 1 arah - expat memiliki kecenderungan untuk hanya mau mendengar apa yang mereka mau dengar. Perintah bodoh akan menjadi makanan sehari-hari.
Tidak ada metode kontrol yang jelas dan terstruktur untuk proses kerja. Proses kerja anda akan dikontrol dengan metode ditanyakan hingga taraf dihantui ketika HQ Korea butuh sesuatu. Tetapi ketika anda yang butuh HQ akan menghilang atau menunda-nunda tanpa kejelasan hingga kesempatan yang ada hilang.
Tambahan jika atasan anda workaholic - siap siap untuk diganggu diluar jam kerja, dengan perintah yang tidak masuk akal. Tidak ada batasan bagi atasan seperti ini, jika anda tidak meresponi cukup cepat maka ini akan menjadi senjata bagi mereka untuk menyerang anda.